NAMA-NAMA RASULULLAH SAW
Tak ada seorang
nabi atau rasul pun atau siapa saja manusia lain yang memiliki nama sebanyak
nama Rasulullah SAW. Banyaknya nama itu menunjukkan kemuliaan dan ketinggian
derajat sang penyandang nama. Wajarlah bila beliau memiliki nama-nama yang sangat
banyak, karena tak ada yang mengingkari bahwa beliaulah manusia dan makhluk
termulia. Beliaulah makhluk yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah SWT.
Nama beliau yang
banyak itu sebagiannya disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagian lagi
dalam ucapan-ucapan beliau sendiri. Kurang lebih dua ratus nama beliau yang
ulama kumpulkan dari ayat-ayat dan hadits-hadits itu. Sebagian besarnya
disebutkan dalam Bonus Doa edisi ini, yang menyajikan beberapa shalawat yang
mengandung sebagian nama beliau.
Dalam Al-Qur’an,
nama Nabi Muhammad SAW disebutkan dengan beberapa nama. Di antaranya,
“Muhammad”. Nama beliau ini antara lain disebutkan dalam ayat-ayat yang
artinya sebagai berikut:
“Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS Al-Fath: 29).
“Muhammad itu tidak
lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudharat
kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur.” (QS Ali `Imran: 144).
“Dan orang-orang
mukmin dan beramal shalih serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada
Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka. Allah menghapuskan
kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS Muhammad: 2).
“Muhammad itu
sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS Al-Ahzab: 40).
Nama lainnya yang
disebutkan adalah Thaha, yaitu dalam ayat yang artinya, “Thaha. Kami tidak
menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS Thaha:1-2).
Selain itu Ya-Sin, “Ya-Sin. Demi Al-Qur’an, yang penuh hikmah. Sesungguhnya
kamu salah seorang dari rasul-rasul.” (QS Ya-Sin:1-3).
Selain nama-nama
tersebut, beberapa panggilan yang dimaksudkan Nabi Muhammad SAW juga digunakan
Al-Qur’an, antara lain Rasul, Nabi, Ummiy, Syahid, Mubasysyir, Nadzir, Da’i
ilallah, Siraj Munir, Ra’uf Rahim, Nadzir, Mubin, Mudzakkir, Rahmat, Ni’mah,
Hadi.
Beliau adalah
Muhammad sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT, “Muhammad adalah utusan
Allah.” Beliau juga bernama Ahmad, Thaha, dan Ya-Sin. Dalam sebuah haditsnya
beliau bersabda menyatakan dirinya, “Aku mempunyai lima nama: Aku Muhammad,
aku Ahmad, aku Al-Mahi (penghapus), yang denganku Allah menghapus kekafiran,
aku Al-Hasyir (pengumpul), di mana manusia dikumpulkan di belakangku, dan aku
Al-Aqib, yang tak ada nabi sesudahku. Dan Allah juga menamaiku Ar-Raufur Rahim
(Yang Pengasih dan Yang Penyayang).” (Muttafaq `alaih).
Beliau juga
memberitahukan kepada kita, nama lain dirinya yakni, “Aku Muhammad, Ahmad,
Al-Muqaffi (nabi terakhir), Al-Hasyir, Naby At-Taubah, dan Naby Ar-Rahmah.”
(HR Muslim).
Dalam kitab Dalail Khairot, terdapat nama-nama
Rasulullah Shollahhu 'Alaihi Wassalam
Muhammad : Yang Sangat Terpuji (surah 3:144, 33:40,
47:2, 48:29)
Ahmad : Yang plaing agung puja dan pujinya kepada
Allah (surah 61:6)
Hamid : Yang Memuji
Mahmud : Yang Terpuji
Qasim : Yang Membagi (sebenarnya Abul Qasim, Ayah
Qasim, yang merupakan kunyah (julukan atau panggilan yang lazim untuk Nabi),
beliau juga dipanggil Abu Ibrahim (nama kedua putra Nabi yang juga wafat saat
kanak kanak)
‘Aqib : Yang Mengikuti, Yang Terakhir, sesudahnya
tidak akan ada Nabi lagi
Fatih : Yang Membuka, Yang Menaklukkan
Syahid : Saksi (Surah 33:45)
Hasyir : Yang Pertama dibangkitkan dari kubur dan
Mengumpulkan Manusia (pada Hari Kiamat) di Padang Masyar
Rasyid : Yang Terbimbing (surah 11:78)
Masyhud : Yang Tersaksikan
Basyir : Pembawa Kabar kabar Baik (surah 7:88)
Nadzir : Pemberi Peringatan (surah 33:45 dan sering)
Da’i : Penyeru (surah 33:46)
Syafi : Yang Menyembuhkan
Hadi : Yang Memandu ke Kebenaran (surah 13:7)
Mahdi : Yang Terbimbing Baik
Mahi : Yang Menghapus (kedurhakaan), dengannya Allah
menghapuskan kekafiran
Munzi : Yang Menyelamatkan, Yang Menyampaikan
Naji : Keselamatan
Rasul : Utusan (banyak terdapat di dalam Al-Quran)
Nabi : (banyak terdapat di dalam Al-Quran)
Ummi : Buta huruf (surah 21:107)
Tihami : Dari Tihama
Hasyimi : Dari Keluarga Hasyim
Abthani : Milik Al-Bathha (daerah di seputar Makkah)
Aziz : Yang Mulia (surah 9:128). Aziz juga sebuah Nama
Allah
Harish ‘alaikum : Penuh Perhatian terhadap Anda (surah
9:128)
Rauf : Lembut (surah 9:128). Juga sebuah Nama Allah
Rahim : Penyayang (surah 9:128). juga sebuah Nama
Allah
Thaha : (surah 20:1)
Mujtaba : Yang Terpilih
Thasin : (surah 27:1)
Murtadha : Yang Diridhai
Hamim : (permulaan surah 40:46)
Mushtafa : Yang Terpilih
Yasin : (surah 36:1)
Aula’ : Yang Lebih Patut, Yang Lebih Baik (surah 33:6)
Muzammil : Yang Terbungkus (surah 74:1)
Wali : Sahabat, Yang Menolong, Yang Berbuat Kebaikan.
Juga sebuah nama Allah
Mudatstslr : Yang Berselimut (surah 73:1)
Matin : Yang Kukuh
Mushaddiq : Yang Menyatakan Kebenaran (surah 2: 101)
Thayyib : Yang Baik
Nashir : Yang Menolong. Juga sebuah Nama Allah
Manshur : Yang Ditolong (oleh Allah), Yang Berjaya
Mishbah : Dian, Lampu (suvah 24:35)
Amir : Pangeran, Pemimpin
Hijazi : Dari Hijaz
Tarazi : (?)
Quraisyi : Dari Suku Quraisy
Mudhari : Dari Suku Mudhar
Nabi Al Tawbah: Nabinya Tobat
Hafizh : Yang Menjaga. Juga sebuah Nama Allah
Kamil : Yang Sempurna
Shadiq: : Yang Lurus, Tulus, Suci (Surah 19:54),
digunakan untuk Ismail
Amin : Yang Terpercaya (Surah 26:107, 81:21)
Abdullah : Hamba Allah
Kalim Allah : Dia yang kepadanya Allah Berfirman
(biasanya nama kehormatan Musa) `
Habib Allah : Sahabat Tercinta Allah
Naji Allah : Sahabat Karib Allah (biasanya nama
kehormatan Musa)
Shafi Allah : Sahabat Tulus Allah (biasanya nama
kehormatan Adam)
Khatam Al-Anbiya’: Penutup Para Nabi (surah 33:40)
Hasib : Yang Mulia. _]uga sebuah Nama Allah
Mujib : Yang Menjawab. Juga sebuah Nama Allah
Syakur : Yang Banyak Bersyukur. Juga sebuah Nama Allah
Muqtashid : Mengambil sebuah Jalan Tengah (surah
35:32)
Rasul Al Rahmah : Rasulnya Rahmat
Qawi : Kuat. Juga sebuah Nama Allah
Hafi : Yang Tahu (surah 7:187)
Ma ’mun : Terpercaya
Ma ‘lum : Termasyhur
Haqq : Kebenaran (surah 3:86)
Mubin : Jelas, Nyata (surah 15:89)
Muthi : Taat
Awwal : Pertama. Juga sebuah Nama Allah
Akhir : Terakhir. Juga sebuah Nama Allah
Zhahir : Yang Lahir, Eksternal. Juga sebuah N ama
Allah
Bathin : Yang Batin. Juga sebuah Nama Allah
Yatim : Yatim (surah 93:6)
Karim : Yang Pemurah (surah 81:19). Juga sebuah Nama
Allah
Hakim : Yang Arif, Bijaksana. Juga sebuah Nama Allah
Sayyid : Tuan (surah 3:39) _
Siraj : Dian, Lampu (surah 33:46) _
Munir : Bercahaya (Surah 33:46)
Muharram : Yang Terlarang, Suci
Mukarram : Yang Mulia
Mubasysyir : Pembawa Kabar Baik (surah 33:45)
Mudzakkir : Yang Mengingatkan
Muthahhar : Suci
Qarib : Dekat. Juga sebuah Nama Allah
Khalil : Sahabat Baik (biasanya nama kehormatan
Ibrahim)
Mad’u : Yang Diseru `
Jawwad : Yang Pemurah
Khatim : Penutup (surah 33:40)
‘Adil : Yang Adil • .
Syahir : Termasyhur
Syahld : Yang Menyaksikan, Saksi. Juga sebuah Nama
Allah
Muqaffi : Nabi Yang Datang sesudah Nabi Nabi
sebelumnya dan mengikuti jejak mereka
Malhamah : Nabi yang telah diijinkan baginya dan bagi
umatnya berperang melawan orang kafir yang menentangnya
Rasul Al-Malahim : Rasulnya Pertempuran pertempuran
Hari hari Terakhir •
Salah satu nama yang paling sering disebut sebut namun
tidak terdapat di dalam daftar khusus ini adalah ‘Abduhu (hambaNya, hamba
Allah) yang terdapat di dalam surah 17:1 dan 53:10 dan lazim sebagai sebuah
nama orang (misalnya, Muhammad ‘Abduh)
Dikenal sejak Nabi
Adam
Dalam sebuah
haditsnya beliau juga mengatakan, “Namailah diri kalian dengan namaku, tetapi
jangan ber-kun-yah (julukan yang biasanya menggunakan nama ayah atau anak)
dengan kun-yahku. Hanya akulah Qasim (pembagi). Aku membagi di antara kalian.”
(HR Muslim). Jadi, kita tidak boleh menggunakan atau memberi nama “Abul Qasim”
kepada keturunan kita.
Di antara nama-nama
beliau, nama “Muhammad” adalah nama beliau yang paling termasyhur. Secara
etimologis, akar katanya al-hamd dalam bentuk kata isim maf ’ul (yang
diperlakukan), mengandung makna yang terpuji atau yang dipuji. Di dalam hadits
Jubair bin Muth`im RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Aku mempunyai beberapa
nama: Aku Muhammad (yang terpuji), aku juga Ahmad (yang paling memuji atau
paling bagus pujiannya kepada Allah), dan namaku juga Al-Mahi (Penyirna),
karena dengan nama ini Allah menyirnakan kekufuran.”
Nabi SAW terpuji di
sisi Allah SWT, terpuji di sisi para malaikat, terpuji di sisi
saudara-saudaranya, para nabi, dan terpuji di kalangan penduduk bumi semua.
Semua sifat beliau sempurna dan terpuji di mata orang-orang yang berakal. Terbukti,
Tuhannya, Allah SWT, telah memujinya bahkan menganugerahkan asma dan
sifat-Nya, Ar-Ra’ufur Rahim. Nama ini Allah sematkan kepada Baginda Nabi SAW
dalam firman-Nya yang artinya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul
dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Tawbah: 128).
Di antara nama
beliau juga adalah Ahmad. Umat beliau disebut Al-Hammadun (orang orang yang
banyak dan terus menerus memuji). Mereka memuji Allah SWT di kala senang dan
susah. Khutbah beliau selalu diawali dengan al-hamd (pujian), demikian pula
surat-surat beliau. Dan di tangan beliau pula kelak di hari Kiamat akan
berkibar bendera pujian (liwa’ al-hamd). Setelah beliau bersujud di sisi
Tuhannya untuk mendapatkan syafa’at dan memperoleh izin memberikan syafa’at,
Allah memuji beliau dengan pujian kemenangan bahwa beliau adalah Shahibul
Maqam al-Mahmud (Pemilik Maqam yang Terpuji), yang menjadi dambaan orang-orang
terdahulu dan kemudian.
Beliau juga mahmud
(yang dipuji), karena telah memenuhi bumi dengan petunjuk, iman, ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih, membuka hati, menyingkap kegelapan penduduk bumi,
menyelamatkan mereka dari perangkap setan, dari kemusyrikan, kekufuran, dan
kebodohan. Berkat beliau, para pengikutnya meraih kemuliaan dunia dan akhirat.
Beliau telah mengenalkan mereka pada jalan menuju keridhaan Allah. Tiada
sesuatu yang baik kecuali beliau telah memerintahkannya, dan tidak ada suatu
yang jelek kecuali beliau telah melarangnya. Beliau menegaskan, “Segala
sesuatu yang dapat mengantar kalian ke surga telah kami perintahkan kalian
untuk mengerjakannya, dan setiap sesuatu yang mengantar kalian ke neraka telah
kami larang kalian mengerjakannya.”
Nama “Muhammad”
sangat fenomenal dan telah dikenal semenjak zaman Nabi Adam AS masih
bersemayam di surga. Menurut sebuah riwayat, Nabi Adam AS melihat nama
“Muhammad” di dinding-dinding surga yang selalu disandingkan dengan asma Allah
SWT. Adam menjadi penasaran dengan nama itu dan memberanikan diri untuk menanyakan
langsung rahasia di balik penulisan nama “Muhammad”.
Allah SWT menjawab,
“Dia adalah kekasihku, Muhammad namanya. Dialah salah satu dari keturunanmu
yang akan diutus sebagai nabi terakhir. Walaupun diutus sebagai nabi terakhir,
Muhammad adalah pemimpin para utusanku di akhirat kelak. Dan Aku menciptakan
alam semesta seisinya ini semata-mata hanya untuk dia.”
Shalawat dan Salam
kepada Nabi
Dalam masalah aqidah,
keislaman seseorang tidak akan sah dan tidak disebut sebagai muslim sebelum
nama “Muhammad” disebutkan setelah nama Allah SWT, yakni ketika mengucapkan
kalimah syahadat, demi melengkapi penyaksian akan ketuhanan Allah SWT, yang
mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul-Nya.
Para salaf shalih
sangat menganjurkan untuk memberikan nama anak-anak kita dengan nama
“Muhammad” atau “Ahmad”. Mereka berkeyakinan bahwa sebuah keluarga akan lebih
mendapatkan keberkahan dan ketenteraman jika salah seorang anaknya dinamai
dengan nama Nabi ini. Bahkan ada sebagian guru agama, yang mengerti rahasia
dari nama ini, merasa sungkan dan enggan memberikan hukuman atau memukul murid-muridnya
yang kebetulan bernama “Muhammad” atau “Ahmad”, walaupun dia memang bersalah
dan layak dihukum. Hal ini demi adab dan menjaga diri dari menciderai
keagungan Nabi.
Bahkan menurut
sebuah keterangan yang lemah (dhaif), para malaikat yang menjaga neraka dan
menyiksa orang-orang yang berdosa di sana akan memberikan keringanan khusus
kepada para muslimin yang sempat mampir di neraka dan memiliki nama ini,
sehingga tidak menerima hukuman yang sama dengan para penghuni neraka lain
sebelum akhirnya dimasukkan ke surga.
Berhati-hatilah dan
bersikaplah bijak sebisa mungkin dengan orang-orang yang bernama Muhammad,
bukan karena kita takut, enggan, atau apa pun, akan tetapi demi menjaga
martabat Nabi dan kemuliaannya. Penghormatan kita kepada orang-orang yang
kebetulan memiliki nama tersebut akan dibalas oleh Allah SWT, karena Allah
sangat mencintai beliau.
Banyak keistimewaan
yang meriwayatkan kelebihan orang yang bernama Muhammad. Dalam sebuah hadits
dikatakan, “Apabila kamu namakan seseorang itu Muhammad, hendaklah kamu hormati
dia dan lapangkan tempat baginya di dalam suatu majelis, dan jangan masamkan
mukamu kepadanya.” Dan diriwayatkan pula bahwa tidak ada suatu kelompok yang
mengadakan musyawarah dan ada bersama mereka seorang yang bernama Muhammad,
namun mereka tidak mengajaknya ke dalam musyawarah itu, melainkan mereka tidak
akan diberkahi.
Telah diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Malikah dari Ibnu Juraij dari Nabi SAW, yang telah bersabda,
“Barang siapa memiliki istri yang sedang mengandung dan bercita-cita hendak
menamakan anak yang masih di dalam rahim itu Muhammad, Allah Ta`ala akan
mengurniakan kepadanya anak lelaki; dan jika ada seorang yang bernama Muhammad
di dalam sebuah rumah, niscaya Allah Ta`ala mengurniakan berkah di dalam
rumah itu.”
Seorang perempuan
telah berkata kepada Rasulullah SAW, “Hai Rasulullah, aku ini seorang perempuan
yang tiada mempunyai anak lelaki yang hidup.”
Maka Rasulullah SAW
menjawab, “Bernazarlah engkau kepada Allah bahwa, apabila engkau mendapat anak
lelaki, engkau akan namakan anak itu Muhammad.”
Maka ia pun
melakukannya, ternyata anak lelakinya hidup selamat dan baik.
Telah diriwayatkan
dari Abu Umamah, “Barang siapa mendapat anak lelaki lalu ia namakan dia
Muhammad karena menghendaki keberkahannya, ia dan anaknya akan masuk surga.”
(Disebutkan dalam kitab Al-Firdaus). Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali bin Abu
Thalib mengatakan, “Tidak ada suatu jamuan makan lalu datang hadir kepadanya seorang
yang namanya Ahmad atau Muhammad melainkan Allah Ta`ala memuliakan rumah itu
dua kali lipat.”
Sesungguhnya Allah
dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus Nabi-Nya, Muhammad SAW, dan telah
memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Beliau menjadi
rahmat bagi alam semesta dengan risalah tersebut dan menjadi sebab seseorang
mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. Maka sudah semestinya seorang hamba taat
kepadanya, menghormatinya, dan melaksanakan hak-haknya. Dan salah satu dari
hak beliau atas umatnya adalah agar mereka membacakan shalawat dan salam
kepada beliau sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa-jasa beliau dan sebagai
bentuk penghormatan dan pengagungan terhadapnya.
Allah Ta‘ala
berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk
Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56). Ibnul
Qayyim berkata dalam kitabnya, Jalaul-Afham, “Maksudnya, jika Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Rasul-Nya, hendaklah kalian juga
bershalawat dan memberi salam untuknya, karena kalian telah mendapatkan
berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”
Namun sangat
disayangkan, banyak umat Islam yang sudah melupakan hak yang agung tersebut.
Mereka menyamakan penyebutan nama beliau dengan penyebutan tokoh-tokoh dunia
lainnya, baik dari kalangan umat muslim maupun kafir. Penyebutan predikat Nabi
dan Rasul Allah serta mengiringi penyebutannya dengan shalawat dan salam, baik
dalam pidato maupun tulisan mereka, semakin jarang ditemukan. Ini gambaran
dari sikap yang tidak menghormati beliau sebagai utusan Allah yang dimuliakan.
Menyebut nama
Rasulullah tanpa menyertakan shalawat dan salam kepada beliau termasuk sikap
kurang sopan dan mengurangi hak Nabi. Bahkan para ulama memakruhkan hanya
menyertakan salam tanpa shalawat dengan mengucapkan ‘alaihis-salam.
Wajib Memenuhi
Panggilan Nabi
Imam Al-Baihaqi
menukil dalam kitabnya, Syu‘ab al-Iman, dari Al-Halimi, ia berkata, “Sudah
dimaklumi bahwa hak Nabi sangat mulia dan agung serta mulia dan terhormat bagi
kita. Hak beliau atas kita jauh lebih daripada hak seorang tuan atas
budak-budaknya atau orangtua atas anak-anaknya. Karena Allah Ta‘ala telah
menyelamatkan kita dari siksa neraka di akhirat melalui beliau. Allah juga
menjamin arwah, badan, kehormatan, harta, dan keluarga serta anak-anak kita di
dunia melalui beliau, juga menunjuki kita dengan perantara beliau. Sebagaimana
juga apabila kita menaati beliau, Allah akan menyampaikan kita ke surga Na’im.
Adakah satu nikmat yang bisa menyamai nikmat ini? Pemberian mana yang bisa menyamai
pemberian ini?” Allah pun mewajibkan kita menaatinya, mengancam kita dengan
neraka bila mendurhakainya, dan menjanjikan surga bila mengikutinya.
Maka derajat mana
yang bisa menyamai derajat ini? Dan kedudukan mana yang bisa menyerupai
kemuliaan ini? Maka wajib bagi kita untuk mencintai, mengagungkan, dan
menghormati beliau lebih daripada pernghormatan seorang budak kepada tuannya
atau seorang anak kepada orangtuanya. Seperti inilah petunjuk Kitabullah,
sehingga Allah Azza wa Jalla memerintahkan secara langsung dalam kitab-Nya yang
artinya, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya,
dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an),
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-A`raf: 157). Allah mengabarkan
bahwa keberuntungan hanya bagi orang yang menggabungkan iman kepada beliau dan
memuliakannya. Makna memuliakan beliau dalam ayat ini sama dengan
mengagungkannya, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Supaya kamu sekalian
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya (Rasulullah), dan
menghormatinya.” (QS Al-Fath: 9).
Allah menambahkan
dalam ayat ini, hak Rasulullah di tengah-tengah umatnya agar dimuliakan,
dihormati, dan diagungkan. Tidak boleh memperlakukan beliau seperti perlakuan
biasa, seperti perlakuan seseorang terhadap sesamanya. Allah Ta‘ala berfirman
yang artinya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti
panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS An-Nur: 63).
Dikatakan bahwa
makna ayat itu adalah demikian: Jangan kalian menyeru beliau seperti seruan
sebagian kalian dengan sebagian lainnya sehingga jangan menunda-nunda memenuhi
panggilannya atau perintahnya dengan mencari-cari alasan sebagaimana alasan
yang kalian gunakan untuk menunda-nunda memenuhi paggilan sebagian yang lain.
Tetapi seharusnya mereka mengagungkannya dengan segera memenuhi panggilannya,
langsung menaatinya. Bahkan shalat pun, meskipun fardhu, tidak boleh dijadikan
sebagai alasan untuk tidak memenuhi panggilan beliau ketika memanggil salah
seorang mereka yang sedang shalat. Apabila shalat saja tidak boleh dijadikan
alasan untuk menunda-nunda memenuhi panggilan beliau, amalan yang di bawahnya
tentu lebih tidak pantas untuk dijadikan sebagai alasan.
Di antara bentuk menyamakan
panggilan beliau seperti panggilan antara sesama kita adalah menyebut nama
beliau seperti menyebut nama selainnya tanpa menyertakan shalawat dan salam,
padahal ini tuntutan dari rasa cinta kepada beliau. Tidak membaca shalawat
untuk Rasulullah ketika disebut namanya merupakan tanda orang bakhil,
berdasarkan sabda beliau, “Orang bakhil adalah orang yang namaku disebut di
sisinya lalu dia tidak bershalawat atasku.” (HR Ahmad dan An-Nasai).aang_elmalik@yahoo.co.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar