follow

Minggu, 31 Januari 2016

TUAK DIN
Ini adalah cerita Ma’had angkatan 30 yang sungguh unik. Cerita ini disajikan semata mengenang beragam rupa murid Maulana al-Syaikh yang punya beragam kelebihan. Ditahun 1990-an itu ada dua murid MDQH di angkatan itu yang masuk MDQH tanpa menggunakan ijazah. Yang pertama adalah Zainuddin dan kedua Khairul Atho’. Zainuddin tidak pernah sekolah SD/MI apalagi SMP/MTs ataupun SMA/MA jadi samasekali tidak punya ijazah. Atho’ pernah punya ijazah sampai Aliyah namun dibakar oleh bapaknya. Ijazah tersebut dibakar karena Atho’ pernah kedapatan membawa pulang penghargaan lomba tingkat kecamatan ke rumahnya. Sertifikat lomba itu dinilai bapaknya sebagai celah untuk sombong dan takabbur. Jadilah kertas berstempel itu berubah menjadi abu dan debu jalanan Gresik kala itu. Bagi Udin, dalam hidupnya sama sekali dia tidak mengenal ijazah dan sertifikat penghargaan.
Kali ini akan diceritakan tentang Zainudin kecil yang menunaikan khidmatnya di Ummi Rahmatullah dan Maulana al-Syaikh. Jangan tanya dahulu tentang Khairul Atho’ lelaki dari kampung Maulana Malik Ibrahim tersebut. Biarlah Kiyai kharismatik itu kita kubur saja sementara kisahnya. Mari kita belajar dari lelaki dari hutan pegunungan di kaki Rinjani yang menghabiskan hidupnya untuk menjalani titah Maulana gurunya. 
Zainudin lahir dengan postur mungil dan tumbuh sebagai lelaki berperawakan kecil. Lahir dari keluarga yang tinggal di hutan membuat ia akrab dengan kehidupan hutan dan menikmati alam kebersahajaan dalam kemiskinan yang menghimpit. Lahan kebun kopi yang hanya beberapa meter tidak mampu menopang ekonomi keluarga lelaki yang shalih itu. Langkah kecilnya menyeberang sungai mencari ikan kecil, kebiasaan memanjat pohon enau dilereng pusuk pas dan menyadap nira adalah pelajarannya. Menyabit rumput dan menggembala sapi adalah latihannya. Atau berlari mengejar ayam hutan, berburu burung tengkoah disungai pinggir hutan adalah keseharian lelaki sederhana itu.
Ketika umur sekolah, hasratnya belajar seperti layaknya kawan-kawannya dipinggir jalanan menuju Lombok Utara itu mulai tumbuh. Entah kemudian, tidak ada penjelasan mengapa kemudian dia tidak memilih untuk sekolah ke SD menuruni bukit-bukit itu seperti kawan-kawannya. Ia memilih mengaji di seorang ustaz di kawasan Gunung Sari. Entah pagi atau sore di tahun-tahun 1979-an itu setelah didoa ibunya, ia mengayuh hasratnya belajar ke pondok. Ia berjalan kaki tanpa alas kaki dalam keyakinan yang teguh bahwa SD bukanlah bagiannya di masa sekolah itu. Pilihan Allah telah jatuh padanya, yakni belajar agama seutuhnya. Mengaji. Mondok mengaji adalah kudrat-iradat-Nya yang dijalaninya dengan bismillah.
Ia belajar sepenuh hati kitab masa’ilah, perukunan, akhlaq lil banin, quran, nahwu, sharf, dan berbagai ilmu lainnya dalam tahun-tahun yang tidak dihitungnya. Sampailah suatu hari sang guru mursyidnya bercerita sekaligus memberi arahan dan nasihat; kalau kamu hafal quran tiga juz kamu bisa masuk Ma’had. Begitu tutur ustaznya tersebut. Arahan untuk masuk Ma’had tidak pernah diimpikan sama sekali. Ia tahu diri, dari mana Allah akan mengirim takdirnya lagi walhal ia sama sekali tidak pernah sekolah. Lalu dijalaninya saja ikhtiar menghafal Quran disela-sela pengajiannya di pondok itu.
Sampai datang suatu hari yang mengubah takdirnya. Sang ustaz memintanya untuk menuju arah Kayangan Gunung Sari. “Din, kamu sebaiknya berangkat mengaji kepada TGH. Anwar, MA. Beliau baru saja pulang dari Mesir. Ambil barakah pertama”. Demikian pesan gurunya tersebut. Itu sekitar tahun 1990-an.
Ia pun pulang menemui ibunya di rumah sederhana di lereng-lereng bukit berhawa sejuk itu. Angin hutan masih lagi bersih. Dedaunan masih segar menyambut pemuda shalih itu pulang menemui ibunya.
“Inaq suru’ne tiang ngaji aning tuan guru Anwar”.
“Aok ke lekak wah anakku”.
Sebagai murid pertama dan paling tekun, ia dikenal baik oleh gurunya tersebut. Modal mengaji sebelumnya membuat ia memiliki kelebihan dimata gurunya. Sampai suatu waktu TGH. Anwar bertanya kepada anak-anak muridnya.
“Siapa yang mau sekolah ke Ma’had”
Dengan sigap Udin mengacungkan tangan sambil berkata dalam bahasa kampung apa adanya, “aku”
Sang guru tahu kemampuan Udin tetapi juga dia tahu Udin tidak berijazah.
Udin juga tahu diri tidak berijazah namun dia masih menyimpan janji hati gurunya sebelumnya bahwa siapa yang hafal Quran tiga juz insya Allah akan bisa masuk Ma’had.
Udin mantap keyakinannya dengan prasyarat tiga juz itu meskipun juga berhadapan dengan keraguan akibat tidak dimilikinya ijazah kertas mengkilat tersebut.  Hingga suatu hari sang Tuan Guru membawa muridnya ke Pancor. Murid berkulit putih berpostur mungil dan bersuara nyaring itu mengikutinya menuju idarah atau kantor MDQH. Di idarah telah ada TGH. Lalu Anas Hasyri, wakil Amid (wakil Direktur) saat itu.
“Ustaz, tiang bawa anak tiang mau masuk Ma’had.”
“Mbe iye”
“No le duah”
“Suruk tame”
“Tuan Guru Anas berkomentar, “Kekocetne”
“Mmmm”
“Mbe ijzahn”
“Ndarak”
“Mmm...ndekn bau lamun ndrak ijazah”
“Anak ini memang ndak pernah sekolah, tapi silak diuji aja”
“Apa ujiannya.”
“Ya Quran, hadis arbain, akhlaq lilbanin, dan jurumiyah”
Setelah melalui ujian keilmuan itu, Udin dinyatakan diterima sebagai thalib Ma’had.
#
Dima’had, Udin adalah manusia unik. Bukan hanya karena postur kecil dan suara merdu dan relatif mendayu. Unik karena ia dikenal dekat di kalangan punggawa kelas sebagai murid yang amat telaten. Murid aneh itu adalah murid yang rajin masuk kampus, rajin belajar dan salah satu keutamaannya adalah rajin bertanya kepada sesama kawan. Ia kerap mengganggu kawan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam upaya kerasnya menggali hikmah dari lautan huruf dalam kitab-kitab itu. Udin tak kenal lelah apalagi menyerah membongkar ketidakpahamannya dalam bacaan kitab tersebut. Udin bukanlah tipe laki-laki yang malu bertanya sesat dijalan atau malu-maluin karena bertanya terus. Namun Udin tetaplah udin yang biasa saja. Biasa saja karena pengeras suara di ujung Aula saat Zikral Hauliyah ke-30 itu tidak menyebut namanya menjadi juara. Udin pun pulang dan kabarnya pun hilang.
Duapuluh tahun kemudian, Udin ditemui oleh salah satu sahabatnya. Sang sahabat ini pun bercerita tentang haru persuaannya dengan gaya tutur saya:
Suatu hari saya menggeber motor menuju arah Senggigi, terus menuju utara kearah Pelabuhan Telok Kodek jelang Pelabuhan Penyeberangan Bangsal. Saya menjumpai Tuan Guru Muda yang juga kawan sekelas angkatan 30. Tuan Guru muda yang meniti perjuangannya membangun pondok dengan kekuatan wirid dan doa. Hari itu hari Jumat, sebelum pukul sebelas motor meluncur dari rumah kawan itu menuju rumah kawan seorang pejabat Kabupaten. Rumahnya dihamparan dataran hijau dipinggir jalan di sebuah kampung bernama Menggala. Di sisi pondok pesantrennya saya dijamu makan siang dan disudahi dengan doa perjuangan.
Saya berusaha untuk dapat jumatan di masjid pusuk dengan harapan agar ada sisi rekreatif sambil mempelajari suasana ibadah di masjid di pinggir hutan itu. Dilereng itu terdapat masjid sederhana dan jelang azan itu telah hadir sekitar 30-an orang lelaki. Sebelum shalat tahiyat masjid, saya melihat seseorang yang saya kenal dahulu yang tak lain adalah Zainudin (panggil saja Udin). Selepas salam ia memberi isyarat selamat berjumpa dengan isyarat mata gembira dan bibirnya menyebut satu nama.
Sejenak terdengar pengumuman dari pengeras suara yang mengumumkan siapa petugas jumat saat itu. Saya menunggu apakah Udin yang akan bertugas, ternyata bukan dia yang disebut namanya. Selepas azan itu rupanya sang petugas tidak siap dan meminta Zainuddin menjadi khatib. Persis ketika ia melangkah maju, saya melihat langkah itu persis langkah gontai lunglainya menuju Ma’had dahulu. Kostumnya juga persis seperti ma’had dahulu; berbaju koko bersih putih yang agak kedodoran. Dalemannya bertuliskan “milan keramik”. Hampir air mata saya menitik membayangkan masa Ma’had yang bersahaja itu. Saya yakin daleman itu bukan dibelinya di mall atau di butik, juga bukan di toko fashion. Daleman itu pasti pemberian orang yang berkenan. Mungkin juga daleman itu hadiah. Wallahu a’lam.
Saya menunggu detik ia memulai khutbahnya, alhamdulillah lancar. Mukaddimah dan ayat dibaca fasih dan seterusnya. Yang agak mencengangkan khutbah pertama begitu cepat usai dan dilanjutkan dengan khutbah kedua. Khutbah kedua jua selesai segera. Saya tidak menemukan kata-kata berbahasa Indonesia. Ia juga yang mengimami shalat dan saya terganggu juga dengan tulisan milan keramik yang bersejarah itu.
Saya harus menunggu lama selepas salam itu. Rupanya wiridnya tertib sampai doa dan jamaah khusuk mengikutinya. Dari pandangan yang sekilas itu saya yakin bahwa Udin memang diterima oleh jamaah di kawasan pusuk atau puncak itu. Aku ingin membuktikan apakah jamaah berebut keluar selepas salam atau tidak. Ternyata mereka tuntas sampai doa selesai dan itu salah satu pertanda bahwa sang pemimpinnya telah berhasil memimpin jamaahnya.
Saya juga harus menunggu antrian salaman yang menjadi penyejuk jiwa bahwa tradisi salaman telah menjadi milik kampung dibukit-bukit diarah barat Rinjani itu. Dirangkulnya erat tubuh saya dan menyapa dalam sapa yang hangat saat salaman itu. Saya mengiayakan ketika ia mengajak saya ke rumahnya.
“Ustaz mbe taok balende”
“Niki rapet”
“Ooh nggih mbe-mbe taokne tiang ketok, kadu mootor atau”
“Motor wah kadu, arak sekilo langan tene”
“Plungguh jalan kaki kalau jumatan”
“Nggih”
“Mangkin tiang dianter pak kadus niki”
Cesss, darah dijantung saya berdesir, berarti setiap kali ke masjid ia lebih sering berjalan kaki dengan jarak tempuh satu kilometer itu.
Setelah pendakian lereng itu sampailah saya di rumahnya, tepatnya gubuknya. Gubuk sederhana ini terbuat dari bambu yang dianyam kasar dan sebagian potongan kayu-kayu tanpa cat. Lantainya dari papan dan sebagian dari bambu layaknya rumah panggung. Ukurannya kurang lebih 4x3 meter. Saya dijamu diteras yang beratapkan bekas spanduk iklan rokok dipaku memanjang menjadi sekadar tempat berteduh. Saya menegakkan batin saya dengan banyak bertanya bahkan dengan tanya yang kurang penting untuk sekadar menahan rasa sedih-haru yang berkecamuk.
Di bawah tempat kami duduk berseliweran ayam dalam jumlah banyak sekitar 25 ekor. Ini artinya, rumah susun itu sekaligus kandang ayam. Luas lahannya mungkin hanya sepertiga are berbentuk segitiga. Tanah itu persis memangkas tebing sehingga mengikuti bentuk tebing itu. Dalam aroma lapar yang menyergap itu saya disuguhkan kopi gunung racikan istrinya dengan panganan ubi jalar hutan berwarna kuning. Dalam jamuan makan siang dengan nasi ubi itu saya menyaksikan kebersahajaan yang sempurna itu. Inilah pelajaran pertama dari Ustaz shalih itu. 
Dalam sua yang takterduga itu ia bertanya hal yang wajar dengan tanya yang wajar pula. Cara bertanya yang datar itu juga menandakan kebersahajaan. Takterbersit dalam tanya itu sikap merendah atau rendah diri ketika tahu kawan yang telah menjadi ini itu dalam kondisi dia masih bertahan di bukit-bukit sukacita digubuknya itu. Dengan nada tertahan saya bertanya apa saja aktivitasnya dan hampir selalu jawabannya diawali atau diakhiri dengan kata alhamdulilllah.
“Alhamdulillah tiang ngajarang”.
“Mbe taokde ngajarang?”
“Ite wah, ndek tiang nagajarang lek madrasah”
“Apa ajarangde?”
“Apa jak uah, perukunan, masailah, wudlu, carene sembahyang, qur’an, akhlak, fiqh, hadits”
“Loh selapukne?”
“Mbe-mbene wah. Bedose po tiang mun ndek tiang ajahang ie”
Ssssseeepp, darah di jantung berdesir lagi ketika dia menyatakan bahwa mengajar adalah upaya menggugurkan dosa diri dan masyarakat kampungnya. Ia sediakan dirinya dengan keyakinan bahwa mengajarnya itu adalah semata takut berdosa karena tidak menunaikan kewajibannya akibat pernah mengaji dahulu dan hasil mengajinya itu harus diajarkannya kepada masyarakat kampungnya.
“Mbe taokne ngaji”, saya berusaha bertanya sekenanya lagi.
“Lek ite wah ganti-gantian. Mun tiang lek gawah atas, ito so aningne mete tiang. Ini lek julu ni alhamdulillah bantuan bedah rumah. Ie wah taokne pade ngaji endah”.
Di depan rumah gubuk itu ada bangunan bertembok batako dengan ukuran 2,5x3 meter bantuan rumah bagi keluarga kurang beruntung. Anehnya ia tidak menempati rumah bantuan itu namun memilih tinggal di gubuknya dan bangunan itu menjadi tempat belajar murid-murid dari kawasan hutan tersebut.
“Sai si ktek ngaji”, tanya saya berpagut gundah.
“Eee..nine mame, blek kodek, toak kanak ngaji, ndek tiang tao ngajarang si lain, mbe jak wah”.
“Ape gawe’de si lain”, tanya saya seadanya.
Ngarat sampi, arak sampin tiang sepasang.
Ssssseeekkk. Dada saya terasa sesak mendengar tutur lelaki yang hampir seluruh jemarinya telah berubah laksana jempol akibat gigih bekerja sebagai peladang dan peternak itu. Lelaki yang telah beruban itu menjalani takdirnya sebagai petani, peladang sekaligus sebagai guru dengan ruang belajar muridnya terbuka sepanjang kawasan hutan itu. Tidak ada tempat khusus, kecuali bangunan bantuan bedah rumah itu. Ia tidak pernah memilih masjid untuk mengajar, mushalla, ataupun bangunan khusus. Ia bahkan mendatangi satu persatu muridnya jika ada yang tidak hadir, dalam kondisi medan pegunungan.
Dalam kebiasaan turun gunung naik gunung itu, dinas kehutanan menawarkan untuk menjadi mandor atau jagawana hutan. Tawaran itu diterimanya serta dijalaninya hampir enam bulan. Hingga suatu hari takdir menuntunnya ke garis lurus yang dalam keyakinan yang sama sekali tak goyah. Saat ke kantor kehutanan itu dia menyaksikan tumpukan kayu bakar, kayu balok yang diprediksinya sebagai kayu hasil sitaan. Ia membayangkan kayu-kayu itu dipikul lelaki kampungnya untuk biaya hidup anak istrinya lalu ditangkap petugas kehutanan dan menjadi barang sitaan. Renungan pembelaan itu menjadi kesedihannya di satu sisi dan di sisi lain ia merasa berdosa telah memakan gaji hasil penjualan kayu sitaan itu.
Ia pun bergegas masuk ke kantor kehutanan itu dan hari itu juga ia meminta mundur dari jabatan yang telah memberinya uang bulanan yang rutin itu. Sang atasannya tidak mau menerima usulannya untuk mundur karena tidak ada alasan yang jelas. Di samping itu juga prestasinya sebagai jagawana di hutan kawasan produksi gaharu itu tergolong sukses. Inilah jagawana terbaik karena ia bukan menggunakan seragam untuk menakuti penduduk namun pengaruhnya yang membuat penduduk itu tunduk. Jelas dia adalah jagawana yang juga ustadz.
Saya bilang, “ustaz itu gajinya sudah jelas bukan dari hasil penjualan kayu sitaan. Langsung gajinya dari pemerintah”. Saya sedikit berceramah.
“Aro ngkeh ndek ie te gawek”, pungkasnya.
Ditinggalkannya gaji bulanan yang rutin itu, lalu ditanggalkannya baju jagawana itu dan ia melangkah mantap pulang dalam renungan hikmah. “aku tak mau menghidupi anak istriku dari barang subhat”.
Ia pun bercerita bagaimana ia mengajarkan masyarakatnya agar bisa membaca hizib. Minggu pertama hanya satu orang, minggu kedua tiga orang, minggu keempat lima orang sampai kemudian warga kampung seluruhnya antusias berhizib. Karena gairah berhizib itu pernah dalam satu malam mereka berhizib tujuh kali. Ia mengajak masyarakat pusuk berhizib satu-satu. Jika ada yang tidak hadir, saat itu juga segera ditemuinya dan ditanyakan mengapa mereka tidak hadir. Ada yang beralasan tidak bisa mengikuti karena ngaji saja belum bisa. Namun ia menuntunnya dengan sabar terutama orang tua dan anak muda.
“Kamu cukup duduk saja, hadir, itu sudah namanya berhizib”.
“Laguk ndek tiang tao muni”
“Angkak nggih, tiang ngajar side”.
Begitu seterusnya ditanganinya satu persatu murid dari semua kalangan umur itu.
Dalam cerita itu, dia sama sekali tidak pernah menyinggung tentang bangunan tempat ia mengajar, honor yang harus dibayarkan, biaya belajar mereka atau juga pakaian mereka. Sederhana saja. Mengajar dan mengajar.
“berdose tiang kalau tidak tiang ajar”, ulangnya sekali lagi.
Awalnya tidak satupun yang simpati kepadanya. Lima tahun dia sendiri menjalani keinginan membangun kampung itu dengan nafas agama dan telah menunjukkan hasilnya. Ia menjadi guru ngaji kepercayaan dan menjadi pimpinan yang “didengar” di kawasan perbatasan Lombok Barat itu.
Dalam jamuan cerita demi cerita itu saya iseng bertanya tentang ayam-ayam itu.
Iapun mulai bercerita dengan kisah tentang kebiasaannya membawakan kopi untuk Maulana. Tidak banyak sih, paling satu bungkus kecil katanya. Kebiasaan membawa kopi asli racikan ibunya itu membuat dia sering ziarah ke Maulana al-Syaikh dan membuat ia dikenal oleh keluarga Ummi Rahmatullah juga oleh Ummi Raihanun.
Suatu hari saat ziarah sambil menyerahkan bubuk kopi itu, ia ditanya oleh Maulana al-Syaikh
“Din melemeq jari ape ante”
“Mindah ninik, nunasang tiang jari napi”
“Ngne wah Din, ante meq jari jamak-jamak wah”
“Nggih ninik tunas doa”
Lalu Maulana mengambil uang dari sakunya dan memberikan Zainuddin selembar saja dengan nominal Rp.500. Ia pun menerima uang itu sambil berpikir sepanjang hari untuk apa uang lima ratus rupiah itu. Saya apakan uang ini, apa yang saya bisa beli dengan uang yang hanya lima ratus, pikirnya. Sambil merawat kepercayaan dan keyakinannya pada barakah, ia menimang uang lima ratus itu sambil terus dipikirnya untuk apa uang lima ratus itu. Dimasukkannya kedalam sakunya, dikeluarkannya lagi sambil diamatinya lamat-lamat uang itu.
 Saat tamat itu, ia pun pulang dan berusaha mencari tambahan untuk uang barakah itu. Ia pun mendapatkan tambahan sebesar Rp.2.000. Dengan uang yang kini berjumlah Rp.2.500 itu ia membeli ayam untuk dipeliharanya. Ayam itulah yang berseliweran itu. Sambil menikmati gurihnya ubi jalar itu ia bercerita bahwa sepanjang tahun sejak pertama kali dibelinya ayamnya tidak pernah sakit. Ia sendiri heran dan tetangganya pun heran.
“Alhamdulillah Ndekne uah puyah manok tiang”, katanya
Saya iseng bertanya, “ndekne uah ilang manokde?”
“Kereng so ne”
“Pire angkune ilang?” tanya saya iseng.
“Laek sikte masi lek atas jak luek angkune  telang. Kadang sampai 60, nengke ite paling due telu. Laguk syukur ndek tiang anterang maling no, ia mbaitang dirikne. Alhamdulillah”.
Saya terdiam sejenak mengapa kemudian ia mengukir dirinya korban pencurian itu sebagai sebuah kesyukuran. Pencuri jelas-jelas mengondol ayam yang dipeliharanya bertahun-tahun. Namun ia menemukan cara jamak-jamak menghadapi kehilangan itu. Sederhana sekali, “saya tidak perlu repot mengantarkan ayam itu”. Ungkapan tawakkal dalam bahasa yang amat sederhana. Tawakkal yang diteguhkan atas suatu keyakinan yang tiada tara bahwa barakah lima ratus telah mengantarkannya hidup selama lebih dari 20 tahunan. Ia nyatakan keyakinannya itu:
“Laguk ndekne inik puyah po manok tiang. Alhamdulillah. Ie ruene berkat kepeng lima ratus ino. Ie wah sik tiang biaya kanak niki sekolah.” 
#
Saya pun pamit dan diantar sampai pinggir jalan. Tak jauh dari rumah itu saya membelokkan motor dan berhenti di salah satu warung dipinggir hutan yang berjualan air tuak manis (air nira/aren). Saya iseng bercerita pada anak-anak remaja yang berjualan tersebut
“Uahku aning Ustaz Zainudddin ne leq atas”
“Ustaz Zainuddin, sai aran Ustaz Zainuddin?, tanyanya sambil mengernyitkan dahi sekian detik.
Teman sebelahnya nyeletuk, “Tuak Din jage kenene ni”
“Oo Tuak Diiiin”
“Ye jage tuak Din”, saya menimpali.
“Deket balene taok balen tiang. Amak tiang taokne mbeli tanak”.
“Ia taokte pade ngaji ito lek tuak Din”, lanjut remaja di sebelahnya.
“Ie wah selapukte ngaji lek ie”, kata remaja yang satunya.
Sambil menyiapkan tuak manis, gadis hutan itu berkata:
“Ie aran manusia bergune nike pak, ie wah tulen aran manusie bergune”.
Subhanallah.
Saya sedikit menyesal menawar air tuak manis itu. Saya tidak sadar anak-anak kampung itu adalah murid kawan saya yang saya segani itu. Lebih naif lagi saya tidak pernah menawar minuman berapapun harganya jika saya membelinya di toko atau kios besar.
Sepanjang jalan saya berpikir, bahwa betapa selama ini saya menyaksikan kebanggaan mereka yang mengajar di gedung-gedung sekolah dengan fasilitas lengkap. Mengajar dengan keyakinan mantap karena jaminan honor atau gaji jelas. Mengajar tanpa ragu karena jelas itu adalah perjuangan membantu pendidikan Islam. Saya pikir kemuliaan itu adalah saat dikenal sebagai seorang ustaz dengan basis pendukung yang jelas, atau menjadi tuan guru dengan surban kebesaran yang ditakuti. Itu semua menjadi luluh lantaran bertemu dengan seorang murid yang takdirnya mengisi titah gurunya; menjadi manusia jamak-jamak.
.............
“Din melemeq jari ape ante”
“Mindah ninik, nunasang tiang jari napi”
“Ngne wah Din, ante meq jari jamak-jamak wah”
“Nggih ninik tunas doa”
..............
“Ie aran manusia bergune nike pak,
ie wah tulen aran manusie bergune”.
Terima kasih gadis hutan, kami belajar dari kalian.
(Kisah nyata ini di ceritakan oleh Dr. TGH Thohri dalam cerita pendek)

Cuplikan dari buku TRILOGI CINTA MAULANA (buku ketiga)

Cuplikan dari buku TRILOGI CINTA MAULANA (buku ketiga)
catatan murid Maulana
dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis
Muhammad Thohri Khairi Yasri, Fahrurrozi, Satriawan, Zakaria.
ILMU ITU TELAH PERGI
Suatu hari di madrasah al-Shaulatiyyah, ada sesuatu yang luar biasa, tepatnya kesedihan yang susah tergambarkan dengan kata-kata. Kesedihan akibat kehilangan yang teramat dalam. Kesedihan yang berbaur dengan kebanggaan. Kehilangan yang bertabur dengan keharuan. Saat itu Mudir al-Shaulatiyyah membuka rahasia hatinya atas cintanya yang teramat dalam pada muridnya, Zainuddin. Cerita ini adalah cerita gairah ahli ilmu pada sukacita mengajar sepanjang tahun di madrasah tertua di jazirah Arabia itu. Cerita tentang kehadiran murid cerdas dan paling berpengaruh dalam sejarah madrasah itu. Dialah Zainuddin, putra Indonesia itu. 

Suatu hari Zainuddin datang dengan penuh harap untuk menjadi murid di madrasah itu. Disandangnya ijazah sekolah dasar pemerintah Belanda, namun takpenting ijazah itu yang terpenting hari itu Zainuddin memasuki halaman madrasah itu. Hari itu Zainuddin diterima oleh guru Muda bernama Hasan bin Muhammad. Guru muda yang nyaris seumuran dengan Zainuddin. 

Hari itu juga sang guru meminta Zainuddin agar siap diuji. Ujian pun berjalan lancar. Berdasarkan hasil tes itu, Zainuddin dinyatakan lulus dengan kenyataan yang tidak dibayangkannya. Ia dinyatakan lulus di kelas tiga. Dalam rasa tidak percaya, Zainuddin memohon langsung pada guru muda yang berada di hadapannya agar ia diperkenankan tidak langsung di kelas tiga. Ia meminta agar bisa belajar dari kelas dua. Keinginannya itu tidak langsung diterima karena berdasarkan hasil placement test itu Zainuddin berhak di kelas tiga. Dengan pertimbangan yang disampaikan oleh calon murid cerdas itu, akhirnya ia diperkenankan masuk di kelas dua.
Bismillah, hari itu ia belajar di kelas dua.
 
Murid kelas tiga yang belajar dikelas dua itu ternyata murid luar biasa. Kemampuannya sangat luar biasa. Diikutinya proses belajar itu dengan mudah, namun justru kemudahan belajar bagi Zainuddin yang super cerdas itu membuat guru di kelas menjadi kurang nyaman. Ketidaknyamanan itu bukan bermakna negatif. Hal itu karena guru harus memiliki cara berbeda menghadapi murid al-Indonesiy itu. Ia bukanlah murid biasa dengan kemampuan rata-rata, namun dia adalah murid dengan kecepatan belajar yang luar biasa.
 
Guru kelas dua menyadari potensi muridnya dan progress murid tersebut dilaporkan kepada mudir atau kepala sekolah. Sidang dewan guru menetapkan Zainuddin untuk dinaikkan kelasnya. Sidang itu terasa istimewa karena gurunya menginginkan ia tidak naik kelas dengan kawan-kawannya atau naik ke kelas tiga. Sidang menaruh perhatian luar biasa pada murid fenomenal itu. Mungkin saja tidak seluruh guru tahu bahwa murid itu dahulu memang murid kelas tiga yang meminta ditempatkan di kelas dua. Sidang yang taklazim itu kemudian menempatkan Zainuddin dengan keputusan luar biasa. Zainuddin meninggalkan kelas dua dan melompati kelas tiga.
 
Zainuddin akhirnya diputuskan untuk ditempatkan di kelas empat. Bukankah dahulu ia meminta kelas tiga. Bukankah benar pertimbangan gurunya Hasan bin Muhammad bahwa kelas dua tidak cocok baginya. Bukankah itu berarti kelas tiga memang bukan untuknya. Ia sebenarnya murid kelas empat. Lalu dijalaninya tahun-tahun belajar di kelas empat itu. Sungguh di kelas ini juga ia menjadi murid yang luar biasa. Guru-guru di kelas empat justru menjadi kerepotan mengajar bukan karena menghadapi murid yang masuk kelas akselerasi tersebut. Para guru bukan repot karena harus mengajar murid dengan beberapa penyesuaian tersebut. Yang menjadi soal adalah guru super cerdas ini ternyata sama sekali tidak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran.
 
Menghadapi kelas Zainuddin, para guru tidak seperti menghadapi kelas yang lain. Para guru harus belajar ekstra sebelum masuk kelas Zainuddin. Para ulama itu benar-benar harus siap jika masuk mengajar di kelas Zainuddin. Para ulama itu harus benar-benar siap mengajar jika masuk ke kelas Zainuddin. Para guru bangga memiliki murid cerdas tersebut namun tentu saja kebanggaan itu harus berimbas pada keseriusannya belajar mempersiapkan diri menghadapi muridnya, Zainuddin dan kawan-kawan.
 
Dikelas empat Zainuddin juga mendapat teman baru yang justru telah mengenyam pelajaran kelas tiga. Lama belajar temannya saat kelas tiga dahulu dan juga umurnya tentu saja berbeda dengan Zainuddin. Dikelas ini lagi-lagi Zainuddin membuat teman sekelasnya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin murid dari Lombok itu tidak kesulitan sama sekali dalam semua mata pelajaran. Maulana Hasan bin Muhammad juga begitu riangnya setiap kali mengajar di kelas Zainuddin.
 
Syaikh Hasan kerap membawa karangannya ke dalam kelas Zainuddin. Salah satu kitab karangannya adalah al-Taqrirat al-Tsaniyyah syarah al-manzumat al-Baiquniyyah. Saat dikelas itu, sang Syaikh meminta  Zainuddin mengoreksi (mentashih) karangannya langsung di depan kawan-kawannya. Syaikh Hasan yang bergelar al-Muhaddis al-ushul tersebut tidak memintanya secara personal namun permintaan tersebut ditunjukkan secara terbuka di depan teman-teman Zainuddin. Secara nyata (hal) Maulana al-Hasan menyatakan bahwa muridnya super cerdas itu adalah ulama yang berhak mentashhih kitab karangan ulama, dalam hal ini tidak lain adalah gurunya yakni ulama al-Shaulatiyyah yang amat disegani. Guru murid itu ternyata ulama.
 
Saat suasana belajar di kelas itu, Zainuddin menolak permintaan gurunya mengoreksi kitab tersebut namun sang guru terus meminta agar Zainuddin memeriksa kitab karangannya. Zainuddin malu pada dirinya dan juga sungkan kepada temannya. Zainuddin merasa diri sangat tidak layak mengoreksi karangan gurunya dan apalagi itu dihadapan kawan-kawan sekelasnya. Kitab itupun (terpaksa) diterimanya dari sang guru dan didekapnya erat di jalanan pulang ke kosannya sambil menikmati pikirannya yang berkecamuk tentang hari belajar yang takwajar itu.
 
Sampai akhirnya beliau membaca kitab tulisan gurunya tentang ilmu hadits tersebut. Benar saja ujian khusus dalam bentuk koreksi kitab oleh Maulana al-Hasan telah menempatkan murid cerdas itu pada bagian khusus di hati para ulama haramain tersebut. Ia dengan penuh ta’zim menyampaikan catatannya pada kitab tersebut sebagai masukan atau koreksi. Dengan hati-hati ditulisnya catatan koreksi itu. Dengan penuh kehati-hatian pula demi menjaga ta’zim disusunnya ungkapan yang tepat ketika memberi catatan koreksi tersebut:
 
Untuk beberapa pertimbangan beliau menulis: lau kana kadza lakana ahsan. [Seandainya ditulis begini mungkin lebih cocok]. Beliau bercerita bahwa komentar itu juga tidak sulit namun adab kepada guru itu sangat sulit dijaga. Beliau khawatir tidak tepat dalam memberi masukan atau koreksi buku tersebut namun beliau lebih khawatir jangan sampai komentarnya tersebut menjadi kurang sopan (su’ul adab) kepada gurunya. Koreksi beliau pada buku tersebut kurang lebih tiga atau empat tempat.
 
Para kawan dekatnya juga menyadari keahlian Zainuddin. Syaikh Zakaria Abdullah, kawan sekelasnya dari Sumatera. Seorang murid al-Shaulatiyyah yang ahli bahasa itu mengenang bagaimana ia takkuasa membendung hasratnya mengalahkan Zainuddin. Zainuddin adalah kawan dekatnya sekaligus saingan beratnya. Zainuddin adalah sahabatnya sekaligus kompetitor tangguhnya di al-Shaulatiyyah. Zakaria minimal telah belajar di al-Shaulatiyyah lebih lama daripada Zainuddin. Zakaria maksimal belajarnya, sempurna pula rajinnya merasa bahwa suatu saat nanti ia dapat mengalahkan Zainuddin sekali saja.
 
Sampailah pada suatu hari ia menemukan cara jitu mengalahkan classmate-nya itu. Itu jelang ujian akhir tahun dan salah satu mata ujiannya adalah Tafsir. Salah satu referensi tafsir itu hanya ada di perpustakaan al-Shaulatiyyah dan tidak dijual bebas. Bergegas ia menuju perpustakaan al-Shaulatiyyah dan meminta kepada penjaga perpustakaan itu agar kitab tersebut dipinjaminya dan disimpankan untuknya untuk diambilnya nanti. Ia juga berpesan agar tidak memberi tahu siapapun yang mau meminjam buku itu.
Sambil menyusuri jalanan kota Makkah ia kembali ke kosannya. Dalam terpekur mengukur jalanan itu, ia menaruh yakin bahwa paling tidak di pelajaran tafsir ia akan mampu mengalahkan Zainuddin. Rupanya Zainuddin juga mencari kitab yang sama. Suatu hari Zainuddin menuju perpustakaan itu untuk meminjam kitab yang sama. Ia berusaha membolak-balik kitab-kitab tersebut. Nihil. Takjua dijumpainya kitab tersebut. Ia yakin kitab itu ada dibarisan atau jejeran buku-buku tafsir tetapi kini kemana buku itu. Ia kemudian berpikir bahwa buku tersebut pasti sudah ada yang meminjamnya.
 
Zainuddin pun bergegas menuju penjaga perpustakaan tersebut. Sang penjaga mengatakan bahwa dia tidak tahu tentang buku itu. Zainuddin pun bertanya lagi untuk menepis keraguannya bahwa buku itu memang pernah ada di perpustakaan. Tanyanya yang ragu dan berulang itu meyakinkan dirinya bahwa sang penjaga agaknya menyimpan sesuatu. Diyakininya dari raut mukanya dan nada serta gaya bicaranya yang tertahan itu, sang penjaga menyimpan konspirasi dengan peminjam buku tersebut.
 
Zainuddin lalu mendekatkan wajahnya kepada penjaga itu dan berkata dengan setengah berbisik, ”siapa sebenarnya yang pinjam buku itu, tolong beri tahu saya“. Awalnya sang penjaga takbergeming namun akhirnya dia membisikkan kepada Zainuddin agar rahasia konspirasi penjaga dengan siapa yang meminjam buku itu tidak bocor. Sudahlah, kalau Zakaria yang meminjamnya pasti aku akan dapat meminjamnya.
Dalam langkah berpaut tanya yang tak selesai ia pun menuju kosan Zakaria. Dia berdiri ragu didepan pintu. Salam pun terucap dan sang pemilik kosan pun keluar. “Saya mau pinjam buku itu, berikan saya membacanya karena sudah Anda pinjam”. Betapa terperanjatnya Zakaria karena ternyata kongkalikong-nya dengan penjaga perpustakaan terbongkar. Walaupun begitu tekadnya mengalahkan Zainuddin di mata pelajaran ini tetap dikukuhkannya. Ia juga semakin kukuh meyakinkan kawan baiknya tersebut bahwa bukan dia yang meminjam buku tersebut. Mata batin Zainuddin melihat gejala ketidakwajaran itu namun begitu, tampaknya ia lebih memilih sabar dan kemudian berpamitan pada kawan baiknya tersebut. Ia terjebak dalam dilema antara ingin benar membaca buku itu dengan membongkar trik takmanis kawannya itu dan mengukir sabar bahwa persahabatan lebih utama dibandingnya meraih rangking di kelas.
 
Cerita ini tak terungkap jika saja Syaikh Zakaria, ulama sekaligus pedagang serta pengarang cerdas tidak menceritakannya sendiri kisah konspiratif tersebut. Untuk mengalahkan Zainuddin ia harus menyembunyikan kitab referensi tersebut dan membacanya sendiri dengan harapan pembaca tentu tahu isi kitab tersebut dan tentu dapat menjawab soal-soal ujian itu dengan mudah. Praduganya terkubur ketika hasil ujian diterimanya. Ia menatap sahabatnya itu dalam rasa kagum yang teramat dalam. Bagaimana mungkin Zainuddin mampu menjawab dengan demikian sempurna setiap soal dalam kertas ulangan itu. Bahkan di beberapa jawaban tersebut Zainuddin merangkai jawabannya dengan syair (puisi) secara spontan saat ujian itu.
 
Zakaria mengubur hasratnya menyaingi Zainuddin dan serta merta mendayung rasa kagumnya pada kawannya itu. Zainuddin yang menjadi korban upaya cerdas menekuk langkahnya yang selalu sukses juga sesungguhnya tahu itu namun jika saja tidak diceritakan oleh sahabatnya itu maka cerita kekaguman yang berbau sabotase itu takkan terungkap. Zakaria niatnya hanya menguji apakah dirinya mampu mengalahkan sahabatnya itu dalam hal nilai bukan semata ingin mengalahkan atau menjatuhkan Zainuddin. Ia juga ingin menguji kadar kealiman kawannya itu jika saja materi tersebut ujian tersebut luput dari belajarnya.
 
Nyatanya kealiman Zainuddin semakin memesona dirinya, kawannya, guru-gurunya dan juga seluruh keluarga al-Shaulatiyyah. Pesona kekaguman itulah yang diceritakan bahwa bagaimana sedihnya keluarga besar al-Shaulatiyyah ketika Zainuddin tamat dan pulang ke Indonesia. Benar saudaraku, ini bukan cerita kekaguman namun ini adalah cerita kesedihan atas kehilangan murid terbaik al-Shaulatiyyah. Tamatnya Zainuddin telah menjadi prasasti abadi kebanggaan al-Shaulatiyyah namun juga kepergian Zainuddin dari halaman al-Shaulatiyyah telah menciptakan rasa dan aura kehilangan yang tiada tara bagi al-Shaulatiyyah.
Saudaraku, tentu yang pernah belajar langsung kepada Maulana al-Syaikh tahu bahwa sekian pujian yang disampaikan oleh guru dan pimpinan madrasah al-Shaulatiyyah. Pujian al-Syaikh Amin Kutbi, madah Syaikh Salim, ikrar Syaikh Hasan Masysyath, sanjungan kawan-kawannya, semua itu bukan semata pujian. Itu semua bahasa batin, nyanyian jiwa, nada sukma yang mengalir pada diri para ulama besar itu dan mengalir dalam tutur magis itu. Ini bukan keceriaan menyaksikan bulan yang menerpa alam. Ini adalah nyanyian pujian dan kesaksian pada terang bulan yang menjadi suluh dalam gelap alam maya dengan segala kelebihan yang tidak dimiliki murid lain sepanjang sejarah al-Shaulatiyyah.
 
Ketika Zainuddin sudah tidak lagi di altar madrasah al-Shaulatiyyah itu kehilangan itu amat nyata. Kehilangan yang teramat sangat itu dirasakan oleh pribadi ulama besar bernama al-Syaikh Salim Rahmatullah, guru sekaligus mudir al-Shaulatiyyah kala itu. Kecintaaannya pada Zainuddin terungkap lewat tuturnya yang teramat dalam: cukuplah al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti Zainuddin. Ia bernostalgia bagai waktu dahulu saat Zainuddin masih di al-Shaulatiyyah. Ia kerap bermimpi akankah ada murid al-Shaulatiyyah yang serupa atau mendekati kealiman Zainuddin.
 
Ungkapan Syaikh Salim itu benar dan jelas bahwa itu adalah bahasa cinta sekaligus bahasa kekaguman atas pribadi yang dicintainya. Zainuddin adalah putra terbaik yang pernah dididik di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah murid terbaik yang pernah belajar di al-Shaulatiyyah. Zainudddin adalah pemuda terbaik yang melukis keshalihannya dengan belajar jutaan hikmah dari guru-gurunya. Zainuddin adalah anak emas yang telah dilahirkan oleh alam dan dibesarkan di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah kekasih Allah yang dirasakan hikmahnya oleh al-Shaulatiyyah sepanjang zaman.
 
Mudir menyadari itu. Mudir menyadari kehilangan yang tiada tara itu. Mudir menyadari bahwa Allah belum menitipkan lelaki cerdas melebihi Zainuddin. Gedung al-Shaulatiyyah seakan merana, penghuninya nelangsa, guru-guru nyaris kehilangan gairahnya. Lorong-lorong bisu, kelas kaku, halaman pucat pasi. Musim demi musim hanya menyimpan kenang, akankah ada Zainuddin-Zainuddin lagi yang datang ke al-Shaulatiyyah untuk belajar. Sampai wafatnya Syaikh Salim tak jua dijumpai pengganti murid yang sempurna keshalihan dan kecerdasannya itu. Rasa kehilangan itu terlukiskan lewat ucapannya yang terlampau romantis itu: cukuplah al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti Zainuddin. Zainuddin dinilainya sebagai satu-satunya cinta yang dimiliki al-Shaulatiyyah. Dan masa demi masa tidak menyediakan penggantinya.
Kesedihan dan rasa kehilangan itu diceritakannya kepada murid-muridnya. Mudir selalu, hampir selalu merenung setiap kali mengingat Zainuddin. Salah seorang murid al-Shaulatiyyah yang merekam tangis kehilangan itu adalah Syaikh Damanhuri seperti yang dituturkan muridnya. Dalam cerita beliau, seperti dituturkan salah satu murid al-Shaulatiyyah Syaikh Sahri Ramadlan (kastsarallah mistlah), bahwa betapa al-Shaulatiyyah kehilangan yang teramat sangat. Betapa Zainuddin adalah nama besar ulama al-Shaulatiyyah Makkah bukan semata ulama Indonesia.
 
Syaikh Damanhuri tidak pernah bersua dengan Maulana al-Syaikh Zainuddin namun nama Zainuddin telah menjadi buah hatinya karena Zainuddin telah menjadi buah bibir Mudir yakni Syaikh Salim Rahmatullah, bahkan keluarga al-Shaulatiyyah. Beliau hampir di tiap pengajian selalu menyempatkan menyebut Maulana al-Syaikh Zainuddin. Aneh. Padahal tidak pernah bersua. Aneh. Bagaimana Allah menanamkan keyakinan pada diri sang Syaikh itu tentang keagungan Zainuddin, murid dari gurunya itu. Bagaimana alumni madrasah al-Falah itu begitu mencintai Zainuddin sebagaimana kecintaan guru-gurunya. Rasa cinta Syaikh Salim Rahmatullah kepada Maulana juga merasuk dalam dirinya.
Salah satu cerita kehilangan yang diceritakannya adalah bahwa dalam sekian kali cerita kehilangan yang tiada tara itu, Syaikh Salim pernah berkata dalam suasana kenang duka kehilangan:
zahaba al-ilmu (ذهب العلم), ilmu telah pergi.
 
Syaikh Salim putra pendiri al-Shaulatiyyah itu menyatakan bahwa keluarga al-Shaulatiyyah telah kehilangan ahli ilmu, al-Shaulatiyyah telah kehilangan kebanggaan. Beliau menyatakan bahwa menara ilmu al-Shaulatiyyah telah redup sinarnya. Sosok Zainuddin tidak dilihatnya sebagai murid semata tetapi Zainuddin adalah referesentasi ahli ilmu dan kepulangannya ke Indonesia adalah kehilangan bagi al-Shaulatiyyah. Zainuddin tidak diyakininya hanya ahli ilmu sebagai pribadi tetapi Syaikh Salim putra Sayikh Rahmatullah itu merasa kekeringan ilmu di al-Shaulatiyyah karena tidak ada lagi yang memacu guru-guru di al-Shaulatiyyah demikian aktif menghadapi siswa terpilih itu. Tidak ada lagi yang bisa menjadi contoh terdekat yang mendorong aktif murid-murid al-Shaulatiyyah setelah Zainuddin pergi.
Zainuddin dinilainya sebagai ahli ilmu sekaligus inspirasi ahli ilmu dalam hal ketaatan, kesabaran, ketekunan, keshalihan, kecerdasan, kejujuran, dan kecintaannya pada madrasahnya. Zainuddin dinilainya sebagai ilmu karena terlalu banyak pelajaran yang diambil oleh keluarga besar al-Shaulatiyyah dari pribadi Zainuddin. Zainuddin menjadi kitab, menjadi catatan, menjadi natsar (prosa), menjadi syair (puisi). Zainuddin menjadi pujian atas keagungan ilmu dan ahlinya. Wujud Zainuddin menurut Syaikh Salim adalah ilmu itu sendiri. Ilmu yang hidup yang pernah dimiliki al-Shaulatiyyah.
 
Kini kurang lebih 85 tahun setelah Maulana al-Syaikh meninggalkan madrasah itu, namanya masih menggema di tanah Makkah. Syaikh Salim telah tiada dan digantikan putranya Syaikh Mas’ud lalu digantikan oleh Syaikh Majid. Semuanya mengenang Zainuddin. Zainuddin putra Lombok yang dihormati oleh gurunya karena keluhuran budi, keluasan ilmu dan keagungan pribadinya.
Pantaslah sekembalinya Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dari Lombok didepan murid-muridnya beliau berikrar bahwa Maulana al-Syaikh Zainuddin adalah manusia yang tiada bandingannya. Zainuddin adalah manusia yang tiada duanya. Beliau berkata:

ما فيه غده فى العالم
 
Zainuddin tiada duanya di dunia.
Salam untukmu wahai guruku.
Kepergianmu adalah duka ulama haramain, duka kehilangan dunia Islam, duka kehilangan murid Nahdlatul Wathan.
sumber" http://byaslam91.blogspot.co.id/"

Minggu, 17 Januari 2016

TERJEMAH KITAB ADABUSSULUKIL MURID (“Risalutul-Murid” Petunjuk Jalan Thariqat)

TERJEMAH KITAB ADABUSSULUKIL MURID (“Risalutul-Murid” Petunjuk Jalan Thariqat)


Kata Pengantar:
Segala puji bagi Allah, tiada illah yang berhak disembah dengan sebenar melainkan Dia. Shalawat dan Salam semoga tercurah atas Penutup para Rasul dan Nabi, Muhammad saw, atas keluarga dan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian kelak. Amma ba’du, Alhamdulillah, dengan rahmat pertolongan Allah dapat diakhiri penafsiran kitab“Risalatul Murid” karangan Al-Quthb Aqthob Wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwi AlHaddad ra yang telah diterjemahkan bahasa oleh Syed Ahmad Semait. Kami mengucapkansyukur kepada Allah Taala yang telah memberi taufiq pada Syed Ahmad Semait didalam jasanya meluangkan masa sehingga selesailah terjemahan bahasa oleh beliau atas pertolongan dan keizinan dari Allah jua. Semoga Allah Taala merahmati beliau atas jasa danniat baik beliau dan mengumpulkan beliau didalam kumpulan orang-orang yang ‘bahagia’. Dengan ini kami ingin mengambil kesempatan untuk mengenalkan sedikit tokoh yang agungbagi mereka yang belum mengenali beliau, walaupun kami yakin bahwa seluruh makhluk dibumi ini sudahpun mengenali latar belakang seorang manusia yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah serta RasulNya mencintai beliau ra.
Tentang Al-Habib Abdullah Al-Haddad; Al-Arifbillah Quthbil Anfas Al-Imam Habib Umar bin Abdurrohman Al-Athos ra mengatakan;“Al-Habib Abdullah Al-Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini,sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja ditunda kehidupan beliau demikebahagiaan umat di zaman ini (abad 12 H)”. Al-Imam Arifbillah Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Idrus ra mengatakan; “Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad adalah Sultan seluruh golongan Ba Alawy”. Al-Imam Arifbillah Muhammad bin Abdurrahman Madehej ra mengatakan; “Mutiara ucapan Al-Habib Abdullah Al-Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlangsebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah swt. Di zaman sekarang ini jangantertipu dengan siapapun, walaupun sudah melihat dia sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan karamah, sesungguhnya orang zaman sekarangtidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan dengan Al-Habib Abdullah Al- Haddad kerana Allah swt telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkindapat diukur.” Al-Imam Abdullah bin Ahmad Bafaqih ra mengatakan; “Sejak kecil Al-Habib Abdullah Al- Haddad bila matahari mulai menyising, mencari beberapa masjid yang ada di kota Tarimuntuk sholat sunnah 100 hingga 200 raka'at kemudian berdoa dan sering membaca Yasinsambil menangis. Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah mendapat anugrah (fath) dari Allahsejak masa kecilnya”.Sayyid Syaikh Al-Imam Khoir Al-Diin Al-Dzarkali ra menyebut Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai fadhillun min ahli Tarim (orang utama dari Kota Tarim)



Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith ra berkata; “Masa kecil Al-Habib Abdullah Al- Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampumembahaskan masalah-masalah sufistik yang sulit seperti mengaji dan mengkaji pemikiranSyaikh Ibnu Al-Faridh, Ibnu Aroby, Ibnu Athoilah dan kitab-kitab Al-Ghodzali. Beliau tumbuhdari fitrah yang asli dan sempurna dalam kemanusiaannya, wataknya dan kepribadiannya”. Al-Habib Hasan bin Alwy bin Awudh Bahsin ra mengatakan; “Bahwa Allah telahmengumpulkan pada diri Al-Habib Al-Haddad syarat-syarat Al-Quthbaniyyah”. Al-Habib Abu Bakar bin Said Al-Jufri ra berkata tentang majelis Al-Habib Abdullah Al- Haddad sebagai majelis ilmu tanpa belajar (ilmun billa ta’alum) dan merupakan kebaikansecara menyeluruh. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Aku telah berkumpuldengan lebih dari 40 Waliyullah, tetapi aku tidak pernah menyaksikan yang seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad dan tidak ada pula yang mengunggulinya, beliau adalah Nafs Rahmani,bahwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah asal dan tiada segala sesuatu kecuali daridirinya”.Seorang guru Masjidil Haram dan Nabawi, Syaikh Syihab Ahmad al-Tanbakati ra berkata;“Aku dulu sangat ber-ta’alluq (bergantung) kepada Sayyidi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.Kadang-kadang dia nampak di hadapan mataku. Akan tetapi setelah aku ber-intima’(condong) kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka aku tidak lagi melihatnya. Kejadianini aku sampaikan kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau berkata; ‘Syaikh AbdulQadir Al-Jailani di sisi kami bagaikan ayah. Bila yang satu ghaib (tidak terlihat), maka akandiganti dengan yang lainnya. Allah lebih mengetahui.’ Maka semenjak itu aku ber-ta’alluqkepadanya”. Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi ra; seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yangmendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya denganmengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziarah ke makam,kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Kerana akumenyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yangbodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lautan ilmu pengetahuan yangtiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini”.Syaikh Abdurrahman Al-Baiti ra pernah berziarah bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad kemakam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dalam hatinyaterbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir parasufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrahman Asseqaff, Syaikh Umar al-Mukhdar,Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan yang semisal setara denganmereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan? Pada waktu itu guruku, Al- Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan,‘Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang boleh masuk kepada merekakecuali melaluiku.’ Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad,adalah dari abad 2 H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah swt pada abad ini sebagairahmat bagi penghuninya”. Al-Habib Ahmad bin Umar bin Semith ra. Mengatakan; “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat,serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya”. Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad ra. Mengatakan; “Semoga Allah mencurahkankebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya, bagimereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullahbin Alwy Al-Haddad ra”. Al-Habib Umar bin Zain bin Semith ra mengatakan bahwa seseorang yang hidup sezamandengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad ra; bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliaura sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, “Tiap hari, siangdan malam, saya melihat beliau selalu datang berthawaf mengelilingi Ka’bah (padahal beliauberada di Tarim, Hadhramaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, kerana itulah sayamengetahui bahwa beliau sudah wafat”. Alhamdullillah, semoga karangan beliau ini dapat dijadikan pedoman bagi sesiapa yangbenar-benar mempunyai keinginan yang hakiki untuk menempuh jalan para salaf yangterdahulu dan semoga Allah Taala melimpahkan futuh (kepahaman) dan juga dapat mengamalkan segala garis pandu dari beliau atas pertolongan dan keizinan dari Allah TaalaYang Maha Pengampun Lagi Maha Permudahkan. Kami yakin, bahwa Allah Taala tidak akanmenghampakan hamba-hambaNya yang benar-benar ingin berhijrah pada Allah dan RasulNya dan sesungguhnya Allah Taala tidak pernah menghampakan hamba-hambaNya!Semoga Allah Taala memberikan nihayahNya pada para pembaca khususnya bagi para salik untuk mencapai niat hati.Semoga Allah Taala dengan keredhaanNya dapat mengumpulkan kita semua didalamgolongan hamba-hambaNya yang ‘bahagia’ dan menerima keampunan kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.Kami sedekahkan segala kebaikan-kebaikan pada Guru, Kedua IbuBapa, Keluarga dansekelian Kaum Muslimin dan kami redha menerima segala kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam penafsiran kitab ini. Yang sempurna itu dari Allah dan yang buruk itu dari diri kamisendiri.Kami mohon maaf diatas kekurangan-kekurangan dan kesalahan yang timbul disana-sini.Sebagai manusia kami tentunya tidak dapat terlepas dari kesalahan dan kekeliruan. Olehkerana itu kami mengharapkan teguran dan pembetulan para pembaca sekelian untuk lebihmenyempurnakan kitab Risalutul Murid ini. Kerana kitab-kitab dari para salaf seperti inimerupakan perbendaharaan yang sangat berharga bagi kaum muslimin, khususnya bagi anak cucu kita dan generasi dimasa mendatang. Mudah-mudahan amal ini menjadi amal sholeh bagi kita semua, pada hari yang tiada lagiberguna harta dan keturunan kecuali orang-orang yang datang menemui Allah dengan hati yang salim.Sesungguhnya Allah Taala Maha Berkuasa atas segala sesuatu.Faqir ila Rabbihi Al-Jalil



Muqadimmah:
 Keterangan:
“Alhamdulillah dengan Inayah dan TaufiqNya dimana peraturan dan garisan bagi murid  AlHaq yang di ambil dari terjemahan buku “Risalatul Murid – Jalan Petunjuk Thariqat” oleh Imam Habib Abdullah Bin Alwi AlHaddad bagi murid murid mempunyai keinginan yanghakiki untuk mencapai maksud “Hatinya” yang tidak bercampur baur oleh selaindaripadaNya.

 Risalah kecil ini termuat Ilmu Thariqat untuk salik yang menuntut IlmuThariqat sebagai pedoman di mana akan di sampaikan cara cara khususnya bagi murid murid yang hakiki
 sahaja
supaya tercapai maksud hati mereka dengan Inayah dan Taufiq dari Allah swt dan RasulNya saw”.
Siapakah Ahli Ahli Thariqat?
“Sesiapa saja yang ingin memilih kebersihan dari yang kotor, ingin menyeduk yang jernih dari yang keladak dalam mengarahkan diri menuju ke jalan akhriat, jalan yang penuh denganranjau dan duri, jalan tempat semua manusia diduga dan diuji, siapa diantara mereka yangdapat melaksanakan peraturan dan mengerjakan amalan yang sholeh, sehingga Malaikat  Maut datang menjemputnya dengan lemah lembut diiringi dengan niat yang baik dari merekaitu ‘untuk membawa mereka keHadirat Allah saw’, dimana dalam meninggalkan dunia ini yang fana dan memperolehi ‘Husnul – Khatimah’, iaitu suatu keuntungan yang amat besar. Insyallah.Sesiapa yang tidak ada keinginan untuk memilih kebersihan dari yang kotor maka
 jangan
 membaca risalah kecil ini kerana akan membuang masa mereka saja. Tetapi bagi mereka yangingin mengetahui lebih lanjut dimana Hatinya berdetik untuk meneruskan pembacaannya akanisi kandungan, peraturan dan garisan garisan yang termuat didalamnya. Mudah mudahanmereka dapat Inayah daripada Allah swt dan RasulNya. Amin. Harus dipahami bahwa ketentuan dari Allah swt pasti berlaku atas sesiapa yang menceburkandiri di dalam Ilmu Thariqat. Khabar ini bukan untuk menakutkan mereka yang pertama kalimenceburkan diri di dalam mengikuti peraturan dan garisan, penuh dengan ujian dan cubaankerana Allah swt melihat akan kedalaman Hati (niat sebenar) seseorang samada Cinta, Kasih,Sayang dan menyerahkan Jiwa Raganya kepada yang Memiliki, Menghidupkan dan Mematikan dirinya bukan selain daripadaNya”.
Seterusnya perhatikan di sini akan pengertian Murid dan Syeikh
“Murid bukanlah pelajar di bangku sekolah bahkan maksudnya ialah seseorang yang mencari pemimpin ke jalan Allah menerusi seorang Syeikh. Sedangkan Syeikh pula ialah Gurunya atauPemimpinnya dimana diambil pelajaran, samada dengan cara biasa: iaitu belajar, ataupundengan cara luar biasa iaitu: menerusi pandangan seorang guru yang ada kalanya denganberhadapan muka dan ada kalanya menerusi pandangan Hati.
Ilmu ini ialah Ilmu yang khusus yang diberikan oleh Allah swt kepada para kekasih dan para pencari dan bukan ilmu yang boleh dibelajar menerusi seorang guru ataupun dapat diterangkan selok-beloknya didalam sebuah buku, sebagaimana umumnya berlaku kepadailmu zahir. Orang yang mengetahuinya hanya mereka yang telah mengalaminya saja, seperti
Auliya Allah, para Shiddiqin dan Sholihin; iaitu orang orang yang telah dikurniakan Allahkepada mereka Ilmu Kebatinan.Semuga Allah swt mengurniakan kita semua TaufiqNya supaya dapat mencontohi perjalanan para Salaf Sholeh dan para Ulama Sholihin, supaya kita semua dilindungiNya dari segala citacita yang tidak baik, dipeliharaNya dari segala bahaya dan malapetaka, sehingga terselamat di dunia dan di akhriat, sesungguhnya Dia Pemberi Taufiq dan Hadiyah. Amin, Khair  Insyallah”.
Pendahuluan:
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.Tiada Daya dan Tiada Usaha melainkan dengan Izin Allah Maha Tinggi dan Maha Agung.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang dengan kehendakNya telah meletakkan “dorongankemauan” di dalam hati para murid murid sebagai pencarinya. Insyallah dengan “dorongankemauan” itu akan membimbing murid menuju ke jalan kebahagian; iaitu
“Jalan Iman danIbadah”
dan menolak segala keinginan untuk meninggikan diri dan mencari pangkat.
Keterangan:“Yang di maksud “dorongan kemauan” dengan Qudrat dan Iradah Allah Taala yangterkandung di dalam IlmuNya menghulurkan tanganNya untuk menarik hambaNya diatas IradahNya. Kata “Dorongan” adalah seperti menghulurkan tangan (maha suci Allahdaripapada mempunyai sifat seperti makhlukNya) untuk memimbing HambaNya menujukepada Kehampiran denganNya iaitu Jalan Kebahagian. Kata “Kemauan” bermaksud dengan Iradah (kehendakNya) Allah Taala memilih Hamba pilihanNya untuk memimpin tangan HambaNya ke Jalan Kebahagian Dunia & Akhirat”. Masyallah, Subhanallah . . .Yang di maksudkan “Jalan Iman dan Ibadah” adalah pegangan keimanan yang sangat kuat seolah olah dirinya dapat melihat Allah swt sebagai Tuhan yang disembah dan melaksanakansegala Ibadah mengikut jejak langkah para Salaf dengan berpandukan AlQuran dan Sunnah Rasul saw.Perhatikan dengan teliti pemberian Allah Taala yang sungguh luarbiasa yang tidak dapat kita fikirkan dan rasakan, dimana Dia sendiri dengan sifat Kasih Sayang menjemput hambahambaNya yang sedar akan adanya ‘dorongan kemauan’ di dalam hati mereka. Sesiapa yangmenyedari ‘dorongan kemauan’ itu, sambutlah tanganNya dan terimalah panggilanNyadengan meletakkan dinding dinding besi yang kukuh dan kuat mengelilingi ‘dorongankemauan’ tersebut daripada di ganggu oleh sesiapapun juga. Jika orang yang asyik mencari dunia, apatah lagi mengejarnya dengan penuh tenaga dan perhatian akan tersungkur ke dalam api neraka serta di timpa kecelaan dan kehinaan dari penghuni bumi dan penghuni langit. Maka sewajarnya bagi orang yang waras akal fikiranmembelakangkan dan memelihara diri daripada terperangkap dalam tarikan dunia danisinya”.
Orang yang berkeinginan masuk surga tidak cukup hanya dengan “Angan Angan”, malahhendaklah disertakan dengan keimanan dan amal Sholeh kepadaNya. Kita tetap menjalankan segala perintahnya dan menjaga larangannya. Menjalankan wirid wirid harian dan lain lain”.Keterangan:“Jangan menunggu waktu sihat bermaksud; orang yang sihat tidak ada ujian dan cubaan dandengan mudah dapat hadir tanpa memberikan alasan, melaksanakan amal bakti tetapi orang yang penat selepas kerja, letih, yang sakit dan ada saja halangan-halangan supaya dia tidak dapat hadir, melaksanakan amal bakti itu adalah ujian dan cubaan berat baginya. Sekiranyadia dapat mengatasi masalah ini maka Allah Taala akan “SENYUM” keatas dirinya keranadia mempunyai Haqul Yakin bahwa kehadirannya akan membuat Allah Taala, senyum, Rasulullah saw, senyum, Para Malaikat yang ditugaskan menjaga majlis bakti, senyum, Para penduduk bumi, senyum, Para penduduk langit senyum. Masyallah, Subhanallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”.
Berkata Ibu Atha’ didalam kitabnya Al-Hikam: Melambat lambatkan suatu pekerjaan sehinggaada peluang menunjukkan kebodohan jiwanya.
Keterangan:“Maksud; Mencari alasan demi alasan supaya tidak perlu hadir untuk melaksanakan amalbakti dan menunda-nundakan peluang (untuk mencari alasan alasan) untuk diberimenunjukkan dia lebih senang mendengar nasihat syaitan daripada seruan Allah Taala dan RasulNya”.

Taubat

Langkah pertama yang harus dilalui oleh setiap murid dalam menuju kepada Allah Taala ialahdengan bertaubat kepada Allah Taala dengan sebenar benarnya taubat daripada segala dosa.

Jika ada sesuatu hak orang lain dalam simpannya yang telah dizaliminya pada masa lalu, makaharuslah dikembalikan pada pemilik hak jika barangnya masih ada. Jika barangnya sudah tidak ada haruslah diganti dengan lain ataupun dipohon dari pemiliknya untuk dihalalkan.Sebab orang (murid) yang masih bergantung
 zimmatnya
(menanggung hak orang) dengan hak orang lain tidak berkemungkinan dapat menuju ke jalan Allah Taala.
“Habib Abdullah AlHaddad menjelaskan bahwa bertaubat harus dilakukan pada semua murid murid yang ada keinginan untuk menuju kepada Allah swt dengan taubat yang benar,mengandungi maksud “dengan penuh keinsafan dan ikhlas atas taubatnya itu”.Keterangan:“Sekiranya ada didalam simpanannya atau sudah dihilangkan atau sudah dijualnya tanpa pengetahuan pemiliknya hendaklah di kembalikan sekiranya masih ada. Sekiranya sudah tidak ada harus diganti. Sekiranya tidak berkemampuan hendaklah memohon maaf pada pemiliknyasupaya menghalalkannya sekiranya pemilik itu setuju. Kalau tidak, maka mahu atau tidak harus digantikan, tidak ada jalan lain.Terjebaknya seseorang melakukan demikian adalah seperti berikut:1. Suka menjadi Pak Sanggup: Pada permulaannya ada niat yang bersih untuk menolong pada pemilik samada untuk di simpan atau untuk diperbaiki barang kepunyaan pemilik itu.

2. Niat bersih bertukar: Pada suatu masa datanglah niat si pak sanggup itu bertukar keranadesakkan kehidupan yang sempit sehingga sanggup menjual atau mengadai barang kepunyaan pemilik itu tanpa pengetahuan pemilik sebenar. Kerana didalam kiraannya, dia sanggupmengantikan atau menebus balik barangan itu semula pada masa tertentu.3. Hati yang kotor: Bila sudah tidak dapat mengembalikan barang kepunyaan pemilik, hatinyabertukar menjadi kotor hingga sanggup buat tak tahu yang dia ada menerima sesuatubarangan yang bukan kepunyaannya yang harus dikembalikan walaupun berdepan dengan pemilik yang sebenar tanpa segan silu dan perasaan takut.4. Tiada ketakutan dalam hatinya: Pertama, Allah Maha Mengetahui akan sikap si pak sanggup itu yang tidak akan dapat mengembalikan barangan kepunyaan pemilik sebenar tetapi Tuhan mengizinkan juga kerana ada kemungkinan datang pada pak sanggup itu sifat tahu memilih untuk menjadi seorang yang amanah didalam perjanjiannya. Kedua, oleh keranacetek ilmu pengetahuan agama maka si pak sanggup itu tidak dapat menilai mana yang baik,mana yang buruk dimana ada tertanam didalam hatinya bahwa bila ada rezki akandikembalikannya. Ketiga, si pak sanggup lupa dan tidak tahu bahwa dia tidak mempunyaikeupayaan dan kuasa untuk mengembalikan barangan itu hanya bersandar kepada rezki yangakan datang tanpa berusaha untuk membuat sesuatu tapi hanya duduk dan mengharap aje.Keempat, maka Tuhan menghinanya kerana tidak mahu berusaha untuk mengembalikanbarang kepunyaan pemilik kerana hatinya tidak ada perasaan takut kepada pemilik baranganitu. Bila sudah ada sifat tidak takut pada pemilik walaupun berdepan dengan pemilik, itumenunjukkan bahwa hakikatnya si pak sanggup tidak takutkan Tuhannya, itupun kalau dia adaTuhan”.“Habib Abdullah juga menyebut tentang perjalanan murid menuju kepada Tuhan tidak berkemungkinan sampai kepada Tuhan selagi ada menanggung hak orang lain. Terpulanglahkepada Tuhan untuk menghakimi hambanya samada dibenarkannya untuk meneruskan perjalan hambanya atau tidak. Ini tergantung pada sihamba samada ketidak sanggupan yangsebenar yang di alami dirinya, keikhlasan hati, bertaubat sebenarnya, mempunyai perasaanmalu dan takut pada pemilik barang, berjanji dengan Tuhan tidak akan mengulangi sikapnyauntuk menjadi pak sanggup pada masa akan datang dan menjaga hatinya supaya dibersihkansemula”.
Syarat taubat yang sah ialah menyesali diri atas segala dosa yang lalu dengan sebenar benarpenyesalan serta berazam kuat tidak akan buat lagi dosa selama masih hidup termasuk janganberdetik (cita cita) untuk melakukan dosa kerana perbuatan itu akan merosakkan taubatnyayang sebenar dan tidak diterima oleh Allah Taala.
Keterangan:“Kita harus memahami apa itu Taubat dan apa kesan sampingannya. Bagaimana cara untuk bertaubat yang berkesan pada hati?Apabila taubat itu berkesan maka akan datang pertolongan dari Tuhan untuk membantu dan mengingatkan kita dari melakukan perbuatanmungkar pada masa yang mendatang.Taubat yang sebenarnya adalah suatu perbuatan yang datang dari hati untuk mengucapkanPENGAKUAN pada Tuhan beserta dengan PENYESALAN atas perbuatan perbuatan yanglalu. Apa itu PENGAKUAN, iaitu bersumpah kepada Allah Taala. PENYESALAN adalahPERASAAN KEINSAFAN yang datang dari lubuk hati seorang hamba beserta RASA IKHLAS.
 
Bagaimana RASA IKHLAS datang? MENYEDARI dirinya tidak ada kuasa dan kemampuanuntuk membuat sesuatu walau sebesar zarrah sekalipun. MENYEDARI dirinya dimiliki Tuhan yang menjadikannya. MENYEDARI dirinya dihidupkan dan akan dimatikan oleh Tuhannya. MENYEDARI perbuatan dirinya akan dihadapkan pada Tuhan untuk ditimbangkan segalaamalan-amalannya kelak. Dari mana datangnya MENYEDARI? Itu adalah perbuatan AllahTaala pada hambanya yang hendak diselamatkan dari Api Neraka”.“Sekiranya kita faham akan keterangan diatas itu ada mengandungi beberapa perkara yangmudah dan juga berat supaya jangan mempermainkan seperti berikut:1. PENGAKUAN adalah BERSUMPAH PADA ALLAH TAALA.2. PENYESALAN adalah PERASAAN KEINSAFAN.3. RASA IKHLAS adalah MENYEDARI. Bila ketiga perkara ini dapat difahami dan dilakukan barulah Taubat itu Insyallah berkesan pada diri kita”.
Setiap murid harus mengakui dirinya bersifat cuai dan lalai dalam menunaikan hak hak Tuhanyang wajib atas dirinya. Apabila rasa kesalan atas kecuaian dan kelalaian, maka hati akanberpatah hati dan menyesal mengenangkan diri yang malang. Maka ketahuilah ketika itu Allahakan bersama sesuai dengan firmanNya dalam sebuah Hadis Qudsi;
“Aku sentiasa berada bersama sama orang yang berpatah hatinya kerana AKU” 
Keterangan:
Sila rujuk keterangan diatas; untuk mengakui akan sifat yang sering cuai, lalai dan malasatas perintah Tuhan yang diwajibkan pada diri, hendaklah dilakukan dengan adab danmelaksanankan panduan tersebut sebaik-baiknya. Dengan berwudhu dan selesai shalat berdoalah kepada Tuhan dan mengakulah didepan pintuNya dan mohonlah bantuan dariNya”.
Memelihara Diri Dari Dosa

Setiap murid harus menjauhkan diri dari melakukan dosa dosa kecil apatah lagi dosa besarseperti menjauhi dari mengambil minuman yang beracun. Hendaklah takut untuk melakukandosa lebih pada takut dan gentar jika terminum dan termakan racun yang mematikan. Sebabdosa dan maksiat akan mematikan hati seperti racun membinasakan badan.
 Keterangan:“Mengapakah kita boleh dan sanggup melakukan dosa kecil atau dosa besar? Tetapi akanTAKUT bila seseorang memberitahu bahwa makanan ataupun minuman mengandungi racundan serta merta maka akan menjauhi dari mengambil makanan ataupun minuman itu. Mengapa perkara ini tidak berlaku pada diri kita semasa melakukan dosa kecil ataupun dosabesar? Adakah kerana tidak ada khabar akan perbuatan dosa kecil dan besar akanmembinasakan badan dan mendapat siksaan dari Allah Taala? Alasan apa yang hendak diberikan sedangkan, keterangan dari AlQuran sudah dijelaskan. Nabi dan RasulNya sudahmengingatkan. Para Ulama sudah maklumkan dan Para Guru sudah mengkhabarkannya.Yang menjadi masalah pada diri adalah kerana tidak mempunyai perasaan TAKUT PADA ALLAH. Kenapa tidak ada PERASAAN TAKUT PADA ALLAH seperti MENJAUHI 



  4 perkara tersebut seperti berikut yang harus dipatuhi;1. Jangan sekali-kali meninggalkan segala yang difardhukan keatas diri kamu, jangan sekali-kali mengabaikan apa yang difardhukan atas kamu, jangan melalaikan apa apa yangdifardhukan kepada kamu. Ini membawa kepada tanda sebagai hambaNya yang taat.2. Jangan meninggalkan, mengabaikan, melalaikan perkara dan perbuatan-perbuatan sunnah. Ini membawa kepada tanda kasih dan sayang kepada NabiNya saw.3. Jangan melakukan perbuatan yang haram. Tempat jatuhnya perbuatan haram adalahseperti berikut; fikiran, telinga, mata, hidung, mulut, tangan, kaki, dan kemaluan.a)

 Jangan berfikiran kotor dan buruk, dengan membayang dan menghayal membuat  perkara yang haram.b)

 Jangan mendengar perkara-perkara yang buruk dan haram, seperti mendengar ceritamaruah orang lain, mendengar cerita bohong, mendengar cerita fitnah, mendengar cerita tidak mendatangkan kebaikan yang boleh membawa kepada manfaat.c)

 Jangan memandang perkara dan perbuatan yang haram, samada didepan mata, dikacatv, computer, dvd dan sebagainya. Peliharalah mata kamu dengan memandang AlQuran, Buku-buku Agama, Catitan pelajaran. Jangan sekali-kali mengalihkan pandangan ketempat lain.d)

 Jagalah hidung dari ingin mengambil tahu perihal orang lain.e)

 Jagalah mulut daripada mengeluarkan perkataan yang buruk, yang keji, seperti,mencerita hal orang lain, mencerita maruah orang lain, suka berbohong, sukaberdalih, suka mengumpat, suka maki hamun, suka menjawab yang tidak boleh henti-henti, tidak mengambil berat halal atau haram yang dimasukkan kedalam mulut.Peliharalah mulut dengan mengingati kepada Allah seperti yang telah dijelaskan padabab-bab yang lalu. f)

 Jagalah tangan daripada mengambil haq orang lain tanpa memohon izin walaupunhanya mengambil sebatang jarum atau mengalirkan sehelai rambut. Gunakan tanganuntuk membuat kebajikan, seperti mengambil AlQuran, mengambil buku agama,mengambil buku catitan pelajaran, mengambil tasbih dll. Semua perbuatan inimembawa kepada manfaat kepada manfaat.g)

Tahanlah kaki kamu daripada mengunjungi tempat yang keji, yang hina dan tempat  yang akan melalaikan akan tanggung jawab terhadap Allah Taala. Latih diri denganmengerakkan kaki kemajlis yang diredhai, seperti kelas agama, menziarahi alim-ulama, menziarahi kubur, melangkahkan kaki ke masjid dan dll.h)

 Jagalah kemaluan dari bangun bukan pada yang halal, jauhkan fikiran dan matadaripada benda yang haram kerana boleh membangunkan kemaluan yang sedangtidur.Kesemua perkara tersebut tidak layak dilakukan oleh seorang murid yang ingin menuju ke jalan Allah. Jangan jadikan perjalanan dihentikan oleh perkara-perkara yang disebutkandiatas itu.
Sekiranya si murid itu mengetahui, bahwasanya hatinya tidak boleh lurus dalam agamanyatidak akan terselamat dari bencana-bencana yang mengancam itu, melainkan denganmenghindarkan dirinya dari segala harta dan kekayaan, dan dari sebab-sebab yang menariknyakepada yang demikian, maka wajib atas dirinya menghindarkan segala harta dan kekayaannyaitu. Sekiranya ia seorang yang mempunyai anak-isteri, yang wajib diberi nafkah dan pakaian,
 
Petunjuk Jalan Thariqat 
56maka wajiblah atasnya menyediakan semua itu dan wajiblah ia berusaha mencari wang untuk menutup nafkah dan pakaian anak-isterinya itu.
Keterangan:“Sekiranya kamu dapati bahwa hati kamu tidak boleh lurus dalam agama, tidak bolehterselamat dari bencana-bencana yang sungguh mengancamkan itu, maka hendaklahmenjauhkan diri dari segala harta dan kekayaan dan apa-apa yang boleh menarik kepadanya.Wajiblah atas diri menjauhkan segala harta dan kekayaan itu. Kerana itulah yang terbaik buat kamu.Sekiranya kamu sudah mempunyai keluarga sendiri, mempunyai isteri dan anak-anak. Wajibkeatas diri memberi nafkah dari segi pakaian, makanan, tempat tinggal, perlindungan buat mereka. Wajiblah berusaha dan berikhtiar mencari wang ringgit untuk memberi nafkah, pakaian anak-isteri, tempat tinggal dan lain-lain keperluan yang tidak membawa kepadakeburukan. Jangan sekali-kali meletakkan alasan. Kerana alasan bukan jalan kepadatawakkal”.
Tetapi kalau sesudah ia berusaha, ia tidak berjaya juga, sehingga ke peringkat syara’menguzurkannya, barulah boleh ia bebas dan terselamat dari dosa.
Keterangan:“Sekiranya sudah berusaha dan berikhtiar dan tidak berjaya juga, sehingga dibenarkan padahukum syara’ menguzurkannya, barulah kamu bebas dan terselamat dari perbuatan dosa”.
Jangan Panjang Harapan
Ketahuilah wahai murid yang budiman, bahwasanya kamu tidak berkuasa untuk melazimkandiri dalam ketaatan, dan menjauhkan diri dari tuntutan syahwat serta membelakangi dunia dankeindahannya, melainkan jika kamu mengingatkan diri kamu, bahwa hidup kamu di dunia inihanya tinggal beberapa hari saja lagi, dan bahwasanya kamu tidak berapa lama lagi akan mati.Ketika itu kamu akan melihat ajal kamu di hadapan mata kamu, dan kamu akan bersedia untuk menemui maut, dan kamu menjangka tibanya pada bila-bila masa saja.
Keterangan:“Daftarkanlah didalam benak, bahwa kamu tidak ada kuasa sedikit pun untuk membiasakandiri dalam membuat ketaatan, tidak ada kuasa sedikit pun, tidak dapat menjauhkan diri darimengikuti keinginan nafsu syahwat, tidak ada kuasa untuk menolak dunia dan memalingkansegala kenikmatan dan keindahannya. Kerana apa? Kamu hanyalah patung (boneka). Sebuah patung (boneka) tidak dapat melakukan sebesar zarrah pun, hanya pasrah . . . Jangan sekali-kali berani mengaku kamu ada kuasa untuk mengangkat sesuatu ataumembiasakan diri membuat ketaatan. Hanya satu jalan sahaja yang dapat menyelamatkan diri iaitu dengan mengingatkan diribahwa hidup didunia ini hanya tinggal beberapa hari saja. Boleh tak kamu buat begitu? Tentuboleh! Kalau mahu . . . Kuncinya adalah tepat memilih perbuatan yang hendak dilakukanmengikuti AlQuran dan Sunnah Rasul.Katakan selalu pada diri bahwa kamu sudah tua, walaupun masih muda, katakan selalu, ‘akudah tua, aku tidak perlu apa apa lagi’. Buatlah cara ini selalu, insyallah akan berkesan.
Kerana pengakuan ini akan menghilangkan segala keinginan dunia dan mengharap kembalikepada Allah Taala. Bila pengakuan ini dilafazkan dengan benar dan ikhlas kerana Allah Taala, maka kamu akandapat melihat ajal (roh) dihadapan kamu, dan sudah bersedia untuk menemui maut keranasegala keinginan sudah tidak ada, yang ada tinggal hanya kembali kepadaNya. Kamu akansiap sedia menunggu dan menjangka akan kedatangannya pada bila-bila masa”.
Awas, supaya kamu tidak di tipu oleh panjang harapan untuk hidup lebih lama di dunia, kelak kamu akan ditariknya untuk mencintai dunia, dan kamu akan menjadi susah hati dengannya,sehingga sukar untuk melazimkan diri dalam ketaatan, dan merelakannya kepada membuatibadah serta mengasingkan diri untuk menuju ke jalan akhirat. Kalau begitu dalam mengira-gira bahwa maut akan hampir tiba, dan masanya sudah dekat adalah lebih baik, bukan?! Olehkerana itu patutlah kamu menurutkan anjuran ini, moga-moga Allah memberi kita sekeliantaufiqNya, Amin.
Keterangan:“Jangan kamu sekali-kali ditipu oleh panjang harapan untuk hidup lama didunia danmenikmati segala keindahannya yang tidak kekal. Selagi perkataan ‘MATI’ tidak ada dalambenak fikiran, maka selagi itulah kamu akan tetap mencari kenikmatan dan keindahan duniahingga membuat kamu lupa bahwa maut pasti akan datang. Bila datangnya maut, ohh . . .lambat lagi . . . Itu yang ada dalam fikiran . . .Selagi maut tidak melingkar difikiran, kelak kamu akan ditariknya untuk mencintai dunia danakan merasa susah hati bila segala hajat tidak tercapai. Oleh kerana segala hajat belumtercapai kamu sanggup meninggalkan apa yang telah terbiasa didalam ketaatan, sanggupmerelakan diri meninggalkan ibadah serta kebiasaan dalam mengasingkan diri untuk menujuke jalan akhirat. Perbuatan ini akan berlaku pada semua kerana kerelaan diri belum tercapaiapa yang dihajati.Untuk menghindarinya diri kamu dari ditarik kepada keinginan nafsu syahwat hendaklahmenyakinkan diri bahwa maut akan tiba dan masanya sudah dekat. Bukankah itu yangterbaik? Mudah-mudahan kamu dapat mengikut anjuran ini dan Allah akan memberi sekeliantaufiqNya. Amin, Ya Rabbal Alamin”.
Bersabar Terhadap Penganiayaan Orang
Ada setengah manusia memang tabiatnya suka menganiaya para murid dengan memandangrendah terhadapnya, atau mencelanya, atau sebagainya. Jika kamu tergolong murid-murid yangditimpa penganiayaan serupa itu, maka hendaklah kamu bersabar dan jangan sekali-kali kamucuba membalas. Disamping itu hati kamu harus bersih dari dengki dan dendam, ataumenyimpan perasaan jahat terhadap orang itu. Awas, jangan juga mendoakan yang tak baik terhadap orang itu. Jika orang itu ditimpa sesuatu musibah, atau terkena celaka, maka jangankamu mendakwa yang demikian itu adalah balasan Allah kerana penganiayaannya terhadapdirimu.
Keterangan:
sebenarnya sombong dan tamak? Siapa sebenarnya yang tidak faham?Memang benar, perkara ini buka mudah, hanya orang yang beriman dan bersandar dan memohonkekuatan dari Tuhannya dapat mengatasi perkara sebegini. Hendaknya kamu sentiasadidalam nasihat menasihati antara satu dan lain, bukan disuruh bukak bab! Mengingatkan antara satu dan lain akan mengutamakan haq Allah dan mengutamakanurusan agama. Dengan cara begitu, kamu sebenarnya menasihati diri sendiri juga.49.

Tidak Menganiaya Orang
: Caranya: Dalam apa keadaan sekalipun jangan kamusekali-kali ada keinginan untuk menganiaya orang lain yang menganiayai diri kamu. Lihat no. 41. Secara hikmah, terjadinya penganiayaan atas diri kamu semestinya adasebab tertentu dimana tidak dapat melihatnya. Anggap ini sebagai peringatan dari Allah Taala. Kerana setiap penganiayaan tidak akan berkesan tanpa keizinan dari Allah Taala.50.

 Menghampakan Orang Yang Menghampakannya:
Caranya: Kerana mulut badanbinasa. Kerana janji dibawa mati. Dengan itu jagalah mulut daripada mudah berjanji.Kerana kamu akan dipersoalkan di hadapan Allah Taala! Lihatlah kepada siapa yangkamu janji! Kerana setiap janji yang tidak dilaksanakan akan membawa dihadapan pintu neraka. Sekiranya pihak yang dijanjikan itu merasa hampa, maka di bukanya pintu neraka itu dan dicampakkan kamu ke dalamnya! Sebaliknya sekiranya dirimu yang hampa kepada seseorang hendaknya kamu jangan menghampakannya denganmenahan apa yang patut dikongsikan bersama.51.

Cahaya KeBenaran Terlihat Pada Zahirnya:
Caranya: Untuk mendapatkan cahayakebenaran sebegini bukannya boleh dibeli dengan wang ringgit. Cahaya kebenaransebenarnya datang jauh dari dalam hati yang bersih dari segala sifat keji dan hina. Dan paling utama adalah mempunyai keikhlasan hati dalam melakukan segala perbuatan dan ditujukan pada Allah Taala. Apa yang ada didalam hatinya, baik  percakapan dan perbuatan akan terlihat pada luaran dirinya. Sekiranya Gelap makagelap jugalah terlihat diluarannya. Begitu juga dengan terlihatnya cahaya kebenaranataupun kegelapan dapat ditafsirkan (tentera) apa yang tersembunyi didalam hatinya. Dengan itu, jangan cari, pasti kamu tidak akan dapat, tapi buatlah amal ibadahmusaja, hanya pada Allah Taala.52.

 Mencari Keredhaan Tuhan:
Caranya: Jadikan keazaman dan tujuan hidupmu semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah Taala. Lihat no. 31.53.

 Rasulullah saw seBagai Orang Ikutnya:
Caranya: Selagi Nabimu ada didalam hatimumaka akan mudah untuk mengerjakan atau menjauhi sesuatu. Sebab, dialah gurusejatimu. Yang ‘problem’nya nabimu tidak berada didalam hatimu, hanya dilidah aje! Ni, yang ‘problem besar’! Sekiranya Nabi saw tidak diambil sebagai orang ikutannya,macam mana hendak menurut jejak-langkahnya. Kerana sebenarnya dia tidak mencintai nabinya! Kalau dia mencintai nabinya, pasti dia akan mengikuti jejak-langkah nabinya, bukan? Bila Nabimu berada didalam hati mu maka pertama sekaliadalah kamu akan mencari (belajar) tentang Nabimu dan sifatnya. Kemudian,mencontohi akhlaknya, perbuatannya dan percakapannya. Kerana kamu mengetahuibahwa; sesiapa yang taat pada Nabi saw bererti taat pada Allah.54.

Tunduk, Dan Patuh (Taat) pada Tuhan:
Caranya: Di sini tidak perlu penjelasan lagi.Sesiapa yang sudah mengenal Tuhannya zahir dan batin, sudah tentu akan sentiasa



 
Petunjuk Jalan Thariqat 
106
tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Tidak akan mengemukakan alasan. YangberTuhan cuma dilidah aje akan tunduk dan patuh dengan cara main-main!”.
Kamu akan mendapati mereka sebagai contoh yang tertinggi dalam menuruti perjalanan Nabimereka, sentiasa patuh kepada perintah Tuhan, berlumba-lumba untuk mencapai janji-janjiTuhan yang muluk (tinggi), lari dari ancaman-ancaman Tuhan yang pedih, sebagaimana yangtersebut di dalam firman-firman yang kami sebutkan sebelum ini, mahupun yang tidak kamisebutkan, asalkan yang menunjukkan maksud gembira dan bahagia dengan kemuncak kejayaandan kemenangan bagi orang-orang yang menurut jejak-langkah Rasulullah saw, sertamenunjukkan maksud hina dan duka-nestapa dengan kemuncak kecelaan dan kehinaan bagiorang-orang yang melanggar pengajarannya.
“Ya Allah! Ya Tuhanku! Kami mengaku bahwasanya Engkaulah Tuhan Allah, tiada Tuhan lain melainkan Engkau, Maha Mengasihani, Pemberi berbagai nikmat, Pencipta langit dan bumi dengan penuh keindahan, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Kami mohon kepadaMu supaya dianugerahkan kami menjadi pengikut-pengikut yang terbaik kepada hambaMu dan RasulMu, Junjungan kita Nabi Muhammad saw baik dalam akhlaknya mahupun perbuatanya, zahir dan batin, biarlah kami hidup dan mati atas pegangan ini, wahai Tuhan, kurniakanlah permohonon kami ini dengan Rahmat dan kelebihanMu, wahai Tuhan Yang Maha Rahmat”

Petunjuk Jalan Thariqat 
107
“Ya Allah! Ya Tuhanku! Engkaulah Tuhan kami. BagiMu segala kepujian, kepujian yang banyak, yang baik lagi penuh keberkatan, kepujian yang sesuai dengan keMaha-Agungan ZatMu, dan keMaha-Besaran kerajaanMu. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan, tiada ilmu bagiku melainkan apa yang Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku (kami) tergolong orang-orang yang menganiaya diri sendiri” 
Kini selesailah sudah pelajaran dan penerangan “Risalatul Murid – Pertunjuk Jalan Thariqat”,kami mohon kepada Allah swt supaya setiap murid diperteguhkan pendiriannya, diberikanbantuan, perlindungan dan pertolongan dalam perjalanannya serta diperbetulkan dengankemahuannya untuk menuju ke jalan Allah Taala.Selesai sudah penerangan dengan memanjatkan setinggi kepujian kepada Allah Taala padamalam 4 Rajab 1430 dari hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam, dengandiiringi selawat dan salam kepada junjungan kita, dan disertai kepujian bagi Allah, Tuhan serusekalian alam.Amin. 

#MAJDI AT-TAMPIHI