TUAK DIN
Ini adalah cerita Ma’had angkatan 30 yang
sungguh unik. Cerita ini disajikan semata mengenang beragam rupa murid Maulana
al-Syaikh yang punya beragam kelebihan. Ditahun 1990-an itu ada dua murid MDQH
di angkatan itu yang masuk MDQH tanpa menggunakan ijazah. Yang pertama adalah
Zainuddin dan kedua Khairul Atho’. Zainuddin tidak pernah sekolah SD/MI apalagi
SMP/MTs ataupun SMA/MA jadi samasekali tidak punya ijazah. Atho’ pernah punya ijazah
sampai Aliyah namun dibakar oleh bapaknya. Ijazah tersebut dibakar karena Atho’
pernah kedapatan membawa pulang penghargaan lomba tingkat kecamatan ke
rumahnya. Sertifikat lomba itu dinilai bapaknya sebagai celah untuk sombong dan
takabbur. Jadilah kertas berstempel itu berubah menjadi abu dan debu jalanan
Gresik kala itu. Bagi Udin, dalam hidupnya sama sekali dia tidak mengenal
ijazah dan sertifikat penghargaan.
Kali ini akan diceritakan tentang
Zainudin kecil yang menunaikan khidmatnya di Ummi Rahmatullah dan Maulana
al-Syaikh. Jangan tanya dahulu tentang Khairul Atho’ lelaki dari kampung
Maulana Malik Ibrahim tersebut. Biarlah Kiyai kharismatik itu kita kubur saja
sementara kisahnya. Mari kita belajar dari lelaki dari hutan pegunungan di kaki
Rinjani yang menghabiskan hidupnya untuk menjalani titah Maulana gurunya.
Zainudin lahir dengan postur mungil dan
tumbuh sebagai lelaki berperawakan kecil. Lahir dari keluarga yang tinggal di
hutan membuat ia akrab dengan kehidupan hutan dan menikmati alam kebersahajaan
dalam kemiskinan yang menghimpit. Lahan kebun kopi yang hanya beberapa meter
tidak mampu menopang ekonomi keluarga lelaki yang shalih itu. Langkah kecilnya
menyeberang sungai mencari ikan kecil, kebiasaan memanjat pohon enau dilereng
pusuk pas dan menyadap nira adalah pelajarannya. Menyabit rumput dan menggembala sapi adalah
latihannya. Atau berlari mengejar ayam hutan, berburu burung
tengkoah disungai pinggir hutan adalah keseharian lelaki sederhana itu.
Ketika umur sekolah, hasratnya belajar
seperti layaknya kawan-kawannya dipinggir jalanan menuju Lombok Utara itu mulai
tumbuh. Entah kemudian, tidak ada penjelasan mengapa kemudian dia tidak memilih
untuk sekolah ke SD menuruni bukit-bukit itu seperti kawan-kawannya. Ia memilih
mengaji di seorang ustaz di kawasan Gunung Sari. Entah pagi atau sore di
tahun-tahun 1979-an itu setelah didoa ibunya, ia mengayuh hasratnya belajar ke
pondok. Ia berjalan kaki tanpa alas kaki dalam keyakinan yang teguh bahwa SD
bukanlah bagiannya di masa sekolah itu. Pilihan Allah telah jatuh padanya,
yakni belajar agama seutuhnya. Mengaji. Mondok mengaji adalah kudrat-iradat-Nya
yang dijalaninya dengan bismillah.
Ia belajar sepenuh hati kitab masa’ilah,
perukunan, akhlaq lil banin, quran, nahwu, sharf, dan berbagai ilmu lainnya
dalam tahun-tahun yang tidak dihitungnya. Sampailah suatu hari sang guru mursyidnya
bercerita sekaligus memberi arahan dan nasihat; kalau kamu hafal quran tiga juz
kamu bisa masuk Ma’had. Begitu tutur ustaznya tersebut. Arahan untuk masuk
Ma’had tidak pernah diimpikan sama sekali. Ia tahu diri, dari mana Allah akan
mengirim takdirnya lagi walhal ia sama sekali tidak pernah sekolah. Lalu
dijalaninya saja ikhtiar menghafal Quran disela-sela pengajiannya di pondok
itu.
Sampai datang suatu hari yang mengubah
takdirnya. Sang ustaz memintanya untuk menuju arah Kayangan Gunung Sari. “Din,
kamu sebaiknya berangkat mengaji kepada TGH. Anwar, MA. Beliau baru saja pulang
dari Mesir. Ambil barakah pertama”. Demikian pesan gurunya tersebut. Itu
sekitar tahun 1990-an.
Ia pun pulang menemui ibunya di rumah
sederhana di lereng-lereng bukit berhawa sejuk itu. Angin hutan masih lagi
bersih. Dedaunan masih segar menyambut pemuda shalih itu pulang menemui ibunya.
“Inaq suru’ne tiang ngaji aning tuan guru
Anwar”.
“Aok ke lekak wah anakku”.
Sebagai murid pertama dan paling tekun,
ia dikenal baik oleh gurunya tersebut. Modal mengaji sebelumnya membuat ia
memiliki kelebihan dimata gurunya. Sampai suatu waktu TGH. Anwar bertanya
kepada anak-anak muridnya.
“Siapa yang mau sekolah ke Ma’had”
Dengan sigap Udin mengacungkan tangan
sambil berkata dalam bahasa kampung apa adanya, “aku”
Sang guru tahu kemampuan Udin tetapi juga
dia tahu Udin tidak berijazah.
Udin juga tahu diri tidak berijazah namun
dia masih menyimpan janji hati gurunya sebelumnya bahwa siapa yang hafal Quran
tiga juz insya Allah akan bisa masuk Ma’had.
Udin mantap keyakinannya dengan prasyarat
tiga juz itu meskipun juga berhadapan dengan keraguan akibat tidak dimilikinya
ijazah kertas mengkilat tersebut. Hingga
suatu hari sang Tuan Guru membawa muridnya ke Pancor. Murid berkulit putih
berpostur mungil dan bersuara nyaring itu mengikutinya menuju idarah atau
kantor MDQH. Di idarah telah ada TGH. Lalu Anas Hasyri, wakil Amid (wakil
Direktur) saat itu.
“Ustaz, tiang bawa anak tiang mau masuk
Ma’had.”
“Mbe iye”
“No le duah”
“Suruk tame”
“Tuan Guru Anas berkomentar, “Kekocetne”
“Mmmm”
“Mbe ijzahn”
“Ndarak”
“Mmm...ndekn bau lamun ndrak ijazah”
“Anak ini memang ndak pernah sekolah,
tapi silak diuji aja”
“Apa ujiannya.”
“Ya Quran, hadis
arbain, akhlaq lilbanin, dan jurumiyah”
Setelah melalui ujian keilmuan itu, Udin
dinyatakan diterima sebagai thalib Ma’had.
#
Dima’had, Udin adalah manusia unik. Bukan
hanya karena postur kecil dan suara merdu dan relatif mendayu. Unik karena ia
dikenal dekat di kalangan punggawa kelas sebagai murid yang amat telaten. Murid
aneh itu adalah murid yang rajin masuk kampus, rajin belajar dan salah satu
keutamaannya adalah rajin bertanya kepada sesama kawan. Ia kerap mengganggu
kawan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam upaya kerasnya menggali hikmah dari
lautan huruf dalam kitab-kitab itu. Udin tak kenal lelah apalagi menyerah
membongkar ketidakpahamannya dalam bacaan kitab tersebut. Udin bukanlah tipe
laki-laki yang malu bertanya sesat dijalan atau malu-maluin karena bertanya
terus. Namun Udin tetaplah udin yang biasa saja. Biasa saja karena pengeras
suara di ujung Aula saat Zikral Hauliyah ke-30 itu tidak menyebut namanya
menjadi juara. Udin pun pulang dan kabarnya pun hilang.
Duapuluh tahun kemudian, Udin ditemui
oleh salah satu sahabatnya. Sang sahabat ini pun bercerita tentang haru
persuaannya dengan gaya tutur saya:
Suatu hari saya menggeber motor menuju
arah Senggigi, terus menuju utara kearah Pelabuhan Telok Kodek jelang Pelabuhan
Penyeberangan Bangsal. Saya menjumpai Tuan Guru Muda yang juga kawan sekelas
angkatan 30. Tuan Guru muda yang meniti perjuangannya membangun pondok dengan
kekuatan wirid dan doa. Hari itu hari Jumat, sebelum pukul sebelas motor
meluncur dari rumah kawan itu menuju rumah kawan seorang pejabat Kabupaten.
Rumahnya dihamparan dataran hijau dipinggir jalan di sebuah kampung bernama
Menggala. Di sisi pondok pesantrennya saya dijamu makan siang dan disudahi
dengan doa perjuangan.
Saya berusaha untuk dapat jumatan di
masjid pusuk dengan harapan agar ada sisi rekreatif sambil mempelajari suasana
ibadah di masjid di pinggir hutan itu. Dilereng itu terdapat masjid sederhana
dan jelang azan itu telah hadir sekitar 30-an orang lelaki. Sebelum shalat
tahiyat masjid, saya melihat seseorang yang saya kenal dahulu yang tak lain
adalah Zainudin (panggil saja Udin). Selepas salam ia memberi isyarat selamat
berjumpa dengan isyarat mata gembira dan bibirnya menyebut satu nama.
Sejenak terdengar pengumuman dari
pengeras suara yang mengumumkan siapa petugas jumat saat itu. Saya menunggu
apakah Udin yang akan bertugas, ternyata bukan dia yang disebut namanya.
Selepas azan itu rupanya sang petugas tidak siap dan meminta Zainuddin menjadi
khatib. Persis ketika ia melangkah maju, saya melihat langkah itu persis
langkah gontai lunglainya menuju Ma’had dahulu. Kostumnya juga persis seperti
ma’had dahulu; berbaju koko bersih putih yang agak kedodoran. Dalemannya
bertuliskan “milan keramik”. Hampir air mata saya menitik membayangkan masa
Ma’had yang bersahaja itu. Saya yakin daleman itu bukan dibelinya di mall atau
di butik, juga bukan di toko fashion. Daleman itu pasti pemberian orang yang
berkenan. Mungkin juga daleman itu hadiah. Wallahu a’lam.
Saya menunggu detik ia memulai
khutbahnya, alhamdulillah lancar. Mukaddimah dan ayat dibaca fasih dan
seterusnya. Yang agak mencengangkan khutbah pertama begitu cepat usai dan
dilanjutkan dengan khutbah kedua. Khutbah kedua jua selesai segera. Saya tidak
menemukan kata-kata berbahasa Indonesia. Ia juga yang mengimami shalat dan saya
terganggu juga dengan tulisan milan keramik yang bersejarah itu.
Saya harus menunggu lama selepas salam
itu. Rupanya wiridnya tertib sampai doa dan jamaah khusuk mengikutinya. Dari
pandangan yang sekilas itu saya yakin bahwa Udin memang diterima oleh jamaah di
kawasan pusuk atau puncak itu. Aku ingin membuktikan apakah jamaah berebut
keluar selepas salam atau tidak. Ternyata mereka tuntas sampai doa selesai dan
itu salah satu pertanda bahwa sang pemimpinnya telah berhasil memimpin
jamaahnya.
Saya juga harus menunggu antrian salaman
yang menjadi penyejuk jiwa bahwa tradisi salaman telah menjadi milik kampung
dibukit-bukit diarah barat Rinjani itu. Dirangkulnya erat tubuh saya dan
menyapa dalam sapa yang hangat saat salaman itu. Saya mengiayakan ketika ia
mengajak saya ke rumahnya.
“Ustaz mbe taok balende”
“Niki rapet”
“Ooh nggih mbe-mbe taokne tiang ketok,
kadu mootor atau”
“Motor wah kadu, arak sekilo langan tene”
“Plungguh jalan kaki kalau jumatan”
“Nggih”
“Mangkin tiang
dianter pak kadus niki”
Cesss, darah dijantung saya berdesir, berarti
setiap kali ke masjid ia lebih sering berjalan kaki dengan jarak tempuh satu
kilometer itu.
Setelah pendakian lereng itu sampailah
saya di rumahnya, tepatnya gubuknya. Gubuk sederhana ini terbuat dari bambu
yang dianyam kasar dan sebagian potongan kayu-kayu tanpa cat. Lantainya dari
papan dan sebagian dari bambu layaknya rumah panggung. Ukurannya kurang lebih
4x3 meter. Saya dijamu diteras yang beratapkan bekas spanduk iklan rokok dipaku
memanjang menjadi sekadar tempat berteduh. Saya menegakkan batin saya dengan
banyak bertanya bahkan dengan tanya yang kurang penting untuk sekadar menahan
rasa sedih-haru yang berkecamuk.
Di bawah tempat kami duduk berseliweran
ayam dalam jumlah banyak sekitar 25 ekor. Ini artinya, rumah susun itu
sekaligus kandang ayam. Luas lahannya mungkin hanya sepertiga are berbentuk
segitiga. Tanah itu persis memangkas tebing sehingga mengikuti bentuk tebing
itu. Dalam aroma lapar yang menyergap itu saya disuguhkan kopi gunung racikan
istrinya dengan panganan ubi jalar hutan berwarna kuning. Dalam jamuan makan
siang dengan nasi ubi itu saya menyaksikan kebersahajaan yang sempurna itu.
Inilah pelajaran pertama dari Ustaz shalih itu.
Dalam sua yang takterduga itu ia bertanya
hal yang wajar dengan tanya yang wajar pula. Cara bertanya yang datar itu juga
menandakan kebersahajaan. Takterbersit dalam tanya itu sikap merendah atau
rendah diri ketika tahu kawan yang telah menjadi ini itu dalam kondisi dia
masih bertahan di bukit-bukit sukacita digubuknya itu. Dengan nada tertahan
saya bertanya apa saja aktivitasnya dan hampir selalu jawabannya diawali atau
diakhiri dengan kata alhamdulilllah.
“Alhamdulillah tiang ngajarang”.
“Mbe taokde ngajarang?”
“Ite wah, ndek tiang nagajarang lek
madrasah”
“Apa ajarangde?”
“Apa jak uah,
perukunan, masailah, wudlu, carene sembahyang, qur’an, akhlak, fiqh, hadits”
“Loh selapukne?”
“Mbe-mbene wah.
Bedose po tiang mun ndek tiang ajahang ie”
Ssssseeepp, darah di jantung berdesir
lagi ketika dia menyatakan bahwa mengajar adalah upaya menggugurkan dosa diri
dan masyarakat kampungnya. Ia sediakan dirinya dengan keyakinan bahwa
mengajarnya itu adalah semata takut berdosa karena tidak menunaikan
kewajibannya akibat pernah mengaji dahulu dan hasil mengajinya itu harus
diajarkannya kepada masyarakat kampungnya.
“Mbe taokne ngaji”,
saya berusaha bertanya sekenanya lagi.
“Lek ite wah
ganti-gantian. Mun tiang lek gawah atas, ito so aningne mete tiang. Ini lek
julu ni alhamdulillah bantuan bedah rumah. Ie wah taokne pade ngaji endah”.
Di depan rumah gubuk itu ada bangunan
bertembok batako dengan ukuran 2,5x3 meter bantuan rumah bagi keluarga kurang
beruntung. Anehnya ia tidak menempati rumah bantuan itu namun memilih tinggal
di gubuknya dan bangunan itu menjadi tempat belajar murid-murid dari kawasan
hutan tersebut.
“Sai si ktek ngaji”,
tanya saya berpagut gundah.
“Eee..nine mame,
blek kodek, toak kanak ngaji, ndek tiang tao ngajarang si lain, mbe jak wah”.
“Ape gawe’de si
lain”, tanya saya seadanya.
Ngarat sampi, arak
sampin tiang sepasang.
Ssssseeekkk. Dada saya terasa sesak
mendengar tutur lelaki yang hampir seluruh jemarinya telah berubah laksana
jempol akibat gigih bekerja sebagai peladang dan peternak itu. Lelaki yang
telah beruban itu menjalani takdirnya sebagai petani, peladang sekaligus
sebagai guru dengan ruang belajar muridnya terbuka sepanjang kawasan hutan itu.
Tidak ada tempat khusus, kecuali bangunan bantuan bedah rumah itu. Ia tidak
pernah memilih masjid untuk mengajar, mushalla, ataupun bangunan khusus. Ia
bahkan mendatangi satu persatu muridnya jika ada yang tidak hadir, dalam
kondisi medan pegunungan.
Dalam kebiasaan turun gunung naik gunung
itu, dinas kehutanan menawarkan untuk menjadi mandor atau jagawana hutan.
Tawaran itu diterimanya serta dijalaninya hampir enam bulan. Hingga suatu hari
takdir menuntunnya ke garis lurus yang dalam keyakinan yang sama sekali tak
goyah. Saat ke kantor kehutanan itu dia menyaksikan tumpukan kayu bakar, kayu
balok yang diprediksinya sebagai kayu hasil sitaan. Ia membayangkan kayu-kayu
itu dipikul lelaki kampungnya untuk biaya hidup anak istrinya lalu ditangkap
petugas kehutanan dan menjadi barang sitaan. Renungan pembelaan itu menjadi
kesedihannya di satu sisi dan di sisi lain ia merasa berdosa telah memakan gaji
hasil penjualan kayu sitaan itu.
Ia pun bergegas masuk ke kantor kehutanan
itu dan hari itu juga ia meminta mundur dari jabatan yang telah memberinya uang
bulanan yang rutin itu. Sang atasannya tidak mau menerima usulannya untuk
mundur karena tidak ada alasan yang jelas. Di samping itu juga prestasinya
sebagai jagawana di hutan kawasan produksi gaharu itu tergolong sukses. Inilah
jagawana terbaik karena ia bukan menggunakan seragam untuk menakuti penduduk
namun pengaruhnya yang membuat penduduk itu tunduk. Jelas dia adalah jagawana
yang juga ustadz.
Saya bilang, “ustaz itu gajinya sudah
jelas bukan dari hasil penjualan kayu sitaan. Langsung gajinya dari
pemerintah”. Saya sedikit berceramah.
“Aro ngkeh ndek ie
te gawek”, pungkasnya.
Ditinggalkannya gaji bulanan yang rutin
itu, lalu ditanggalkannya baju jagawana itu dan ia melangkah mantap pulang
dalam renungan hikmah. “aku tak mau menghidupi anak istriku dari barang
subhat”.
Ia pun bercerita bagaimana ia mengajarkan
masyarakatnya agar bisa membaca hizib. Minggu pertama hanya satu orang, minggu
kedua tiga orang, minggu keempat lima orang sampai kemudian warga kampung
seluruhnya antusias berhizib. Karena gairah berhizib itu pernah dalam satu
malam mereka berhizib tujuh kali. Ia mengajak masyarakat pusuk berhizib
satu-satu. Jika ada yang tidak hadir, saat itu juga segera ditemuinya dan ditanyakan
mengapa mereka tidak hadir. Ada yang beralasan tidak bisa mengikuti karena
ngaji saja belum bisa. Namun ia menuntunnya dengan sabar terutama orang tua dan
anak muda.
“Kamu cukup duduk
saja, hadir, itu sudah namanya berhizib”.
“Laguk ndek tiang tao
muni”
“Angkak nggih, tiang
ngajar side”.
Begitu seterusnya ditanganinya satu
persatu murid dari semua kalangan umur itu.
Dalam cerita itu, dia sama sekali tidak
pernah menyinggung tentang bangunan tempat ia mengajar, honor yang harus
dibayarkan, biaya belajar mereka atau juga pakaian mereka. Sederhana saja.
Mengajar dan mengajar.
“berdose tiang kalau tidak tiang ajar”,
ulangnya sekali lagi.
Awalnya tidak satupun yang simpati
kepadanya. Lima tahun dia sendiri menjalani keinginan membangun kampung itu
dengan nafas agama dan telah menunjukkan hasilnya. Ia menjadi guru ngaji
kepercayaan dan menjadi pimpinan yang “didengar” di kawasan perbatasan Lombok
Barat itu.
Dalam jamuan cerita demi cerita itu saya iseng
bertanya tentang ayam-ayam itu.
Iapun mulai bercerita dengan kisah tentang
kebiasaannya membawakan kopi untuk Maulana. Tidak banyak sih, paling satu
bungkus kecil katanya. Kebiasaan membawa kopi asli racikan ibunya
itu membuat dia sering ziarah ke Maulana al-Syaikh dan membuat ia dikenal oleh
keluarga Ummi Rahmatullah juga oleh Ummi Raihanun.
Suatu hari saat ziarah sambil menyerahkan bubuk kopi
itu, ia ditanya oleh Maulana al-Syaikh
“Din melemeq jari ape ante”
“Mindah ninik, nunasang tiang jari napi”
“Ngne wah Din, ante meq jari jamak-jamak
wah”
“Nggih ninik tunas
doa”
Lalu Maulana mengambil uang dari sakunya
dan memberikan Zainuddin selembar saja dengan nominal Rp.500. Ia pun menerima
uang itu sambil berpikir sepanjang hari untuk apa uang lima ratus rupiah itu.
Saya apakan uang ini, apa yang saya bisa beli dengan uang yang hanya lima
ratus, pikirnya. Sambil merawat kepercayaan dan keyakinannya pada barakah, ia
menimang uang lima ratus itu sambil terus dipikirnya untuk apa uang lima ratus
itu. Dimasukkannya kedalam sakunya, dikeluarkannya lagi sambil diamatinya
lamat-lamat uang itu.
Saat tamat itu, ia pun pulang dan berusaha
mencari tambahan untuk uang barakah itu. Ia pun mendapatkan tambahan sebesar
Rp.2.000. Dengan uang yang kini berjumlah Rp.2.500 itu ia membeli ayam untuk
dipeliharanya. Ayam itulah yang berseliweran itu. Sambil menikmati gurihnya ubi
jalar itu ia bercerita bahwa sepanjang tahun sejak pertama kali dibelinya
ayamnya tidak pernah sakit. Ia sendiri heran dan tetangganya pun heran.
“Alhamdulillah
Ndekne uah puyah manok tiang”, katanya
Saya iseng bertanya,
“ndekne uah ilang manokde?”
“Kereng so ne”
“Pire angkune
ilang?” tanya saya iseng.
“Laek sikte masi lek
atas jak luek angkune telang. Kadang
sampai 60, nengke ite paling due telu. Laguk syukur ndek tiang anterang maling
no, ia mbaitang dirikne. Alhamdulillah”.
Saya terdiam sejenak mengapa kemudian ia
mengukir dirinya korban pencurian itu sebagai sebuah kesyukuran. Pencuri
jelas-jelas mengondol ayam yang dipeliharanya bertahun-tahun. Namun ia
menemukan cara jamak-jamak menghadapi kehilangan itu. Sederhana sekali, “saya
tidak perlu repot mengantarkan ayam itu”. Ungkapan tawakkal dalam bahasa yang
amat sederhana. Tawakkal yang diteguhkan atas suatu keyakinan yang tiada tara
bahwa barakah lima ratus telah mengantarkannya hidup selama lebih dari 20
tahunan. Ia nyatakan keyakinannya itu:
“Laguk ndekne inik
puyah po manok tiang. Alhamdulillah. Ie ruene berkat kepeng lima ratus ino. Ie wah
sik tiang biaya kanak niki sekolah.”
#
Saya pun pamit dan diantar sampai pinggir
jalan. Tak jauh dari rumah itu saya membelokkan motor dan berhenti di salah
satu warung dipinggir hutan yang berjualan air tuak manis (air nira/aren). Saya
iseng bercerita pada anak-anak remaja yang berjualan tersebut
“Uahku aning Ustaz Zainudddin ne leq
atas”
“Ustaz Zainuddin, sai aran Ustaz
Zainuddin?, tanyanya sambil mengernyitkan dahi sekian detik.
Teman sebelahnya nyeletuk, “Tuak Din jage
kenene ni”
“Oo Tuak Diiiin”
“Ye jage tuak Din”, saya menimpali.
“Deket balene taok balen tiang. Amak
tiang taokne mbeli tanak”.
“Ia taokte pade ngaji ito lek tuak Din”,
lanjut remaja di sebelahnya.
“Ie wah selapukte ngaji lek ie”, kata
remaja yang satunya.
Sambil menyiapkan tuak manis, gadis hutan
itu berkata:
“Ie aran manusia
bergune nike pak, ie wah tulen aran manusie bergune”.
Subhanallah.
Saya sedikit menyesal menawar air tuak
manis itu. Saya tidak sadar anak-anak kampung itu adalah murid kawan saya yang
saya segani itu. Lebih naif lagi saya tidak pernah menawar minuman berapapun
harganya jika saya membelinya di toko atau kios besar.
Sepanjang jalan saya berpikir, bahwa
betapa selama ini saya menyaksikan kebanggaan mereka yang mengajar di
gedung-gedung sekolah dengan fasilitas lengkap. Mengajar dengan keyakinan
mantap karena jaminan honor atau gaji jelas. Mengajar tanpa ragu karena jelas
itu adalah perjuangan membantu pendidikan Islam. Saya pikir kemuliaan itu
adalah saat dikenal sebagai seorang ustaz dengan basis pendukung yang jelas,
atau menjadi tuan guru dengan surban kebesaran yang ditakuti. Itu semua menjadi
luluh lantaran bertemu dengan seorang murid yang takdirnya mengisi titah
gurunya; menjadi manusia jamak-jamak.
.............
“Din melemeq jari ape ante”
“Mindah ninik, nunasang tiang jari napi”
“Ngne wah Din, ante meq jari jamak-jamak
wah”
“Nggih ninik tunas doa”
..............
“Ie aran manusia bergune nike pak,
ie wah tulen aran manusie bergune”.
Terima kasih gadis hutan, kami belajar
dari kalian.
(Kisah nyata ini di ceritakan oleh Dr. TGH Thohri dalam cerita pendek)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar