Cuplikan dari buku TRILOGI CINTA MAULANA (buku ketiga)
catatan murid Maulana
dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis
Muhammad Thohri Khairi Yasri, Fahrurrozi, Satriawan, Zakaria.
catatan murid Maulana
dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'
Penulis
Muhammad Thohri Khairi Yasri, Fahrurrozi, Satriawan, Zakaria.
ILMU ITU TELAH PERGI
Suatu hari di madrasah al-Shaulatiyyah,
ada sesuatu yang luar biasa, tepatnya kesedihan yang susah tergambarkan
dengan kata-kata. Kesedihan akibat kehilangan yang teramat dalam.
Kesedihan yang berbaur dengan kebanggaan. Kehilangan yang bertabur
dengan keharuan. Saat itu Mudir al-Shaulatiyyah membuka rahasia hatinya
atas cintanya yang teramat dalam pada muridnya, Zainuddin. Cerita ini
adalah cerita gairah ahli ilmu pada sukacita mengajar sepanjang tahun di
madrasah tertua di jazirah Arabia itu. Cerita tentang kehadiran murid
cerdas dan paling berpengaruh dalam sejarah madrasah itu. Dialah
Zainuddin, putra Indonesia itu.
Suatu hari Zainuddin datang dengan penuh harap untuk menjadi murid di madrasah itu. Disandangnya ijazah sekolah dasar pemerintah Belanda, namun takpenting ijazah itu yang terpenting hari itu Zainuddin memasuki halaman madrasah itu. Hari itu Zainuddin diterima oleh guru Muda bernama Hasan bin Muhammad. Guru muda yang nyaris seumuran dengan Zainuddin.
Hari itu juga sang guru meminta Zainuddin agar siap diuji. Ujian pun berjalan lancar. Berdasarkan hasil tes itu, Zainuddin dinyatakan lulus dengan kenyataan yang tidak dibayangkannya. Ia dinyatakan lulus di kelas tiga. Dalam rasa tidak percaya, Zainuddin memohon langsung pada guru muda yang berada di hadapannya agar ia diperkenankan tidak langsung di kelas tiga. Ia meminta agar bisa belajar dari kelas dua. Keinginannya itu tidak langsung diterima karena berdasarkan hasil placement test itu Zainuddin berhak di kelas tiga. Dengan pertimbangan yang disampaikan oleh calon murid cerdas itu, akhirnya ia diperkenankan masuk di kelas dua.
Bismillah, hari itu ia belajar di kelas dua.
Murid kelas tiga yang belajar dikelas dua itu ternyata murid luar
biasa. Kemampuannya sangat luar biasa. Diikutinya proses belajar itu
dengan mudah, namun justru kemudahan belajar bagi Zainuddin yang super
cerdas itu membuat guru di kelas menjadi kurang nyaman. Ketidaknyamanan
itu bukan bermakna negatif. Hal itu karena guru harus memiliki cara
berbeda menghadapi murid al-Indonesiy itu. Ia bukanlah murid biasa
dengan kemampuan rata-rata, namun dia adalah murid dengan kecepatan
belajar yang luar biasa.
Guru kelas dua menyadari potensi muridnya
dan progress murid tersebut dilaporkan kepada mudir atau kepala sekolah.
Sidang dewan guru menetapkan Zainuddin untuk dinaikkan kelasnya. Sidang
itu terasa istimewa karena gurunya menginginkan ia tidak naik kelas
dengan kawan-kawannya atau naik ke kelas tiga. Sidang menaruh perhatian
luar biasa pada murid fenomenal itu. Mungkin saja tidak seluruh guru
tahu bahwa murid itu dahulu memang murid kelas tiga yang meminta
ditempatkan di kelas dua. Sidang yang taklazim itu kemudian menempatkan
Zainuddin dengan keputusan luar biasa. Zainuddin meninggalkan kelas dua
dan melompati kelas tiga.
Zainuddin akhirnya diputuskan untuk
ditempatkan di kelas empat. Bukankah dahulu ia meminta kelas tiga.
Bukankah benar pertimbangan gurunya Hasan bin Muhammad bahwa kelas dua
tidak cocok baginya. Bukankah itu berarti kelas tiga memang bukan
untuknya. Ia sebenarnya murid kelas empat. Lalu dijalaninya tahun-tahun
belajar di kelas empat itu. Sungguh di kelas ini juga ia menjadi murid
yang luar biasa. Guru-guru di kelas empat justru menjadi kerepotan
mengajar bukan karena menghadapi murid yang masuk kelas akselerasi
tersebut. Para guru bukan repot karena harus mengajar murid dengan
beberapa penyesuaian tersebut. Yang menjadi soal adalah guru super
cerdas ini ternyata sama sekali tidak mengalami kesulitan mengikuti
pelajaran.
Menghadapi kelas Zainuddin, para guru tidak seperti
menghadapi kelas yang lain. Para guru harus belajar ekstra sebelum masuk
kelas Zainuddin. Para ulama itu benar-benar harus siap jika masuk
mengajar di kelas Zainuddin. Para ulama itu harus benar-benar siap
mengajar jika masuk ke kelas Zainuddin. Para guru bangga memiliki murid
cerdas tersebut namun tentu saja kebanggaan itu harus berimbas pada
keseriusannya belajar mempersiapkan diri menghadapi muridnya, Zainuddin
dan kawan-kawan.
Dikelas empat Zainuddin juga mendapat teman baru
yang justru telah mengenyam pelajaran kelas tiga. Lama belajar temannya
saat kelas tiga dahulu dan juga umurnya tentu saja berbeda dengan
Zainuddin. Dikelas ini lagi-lagi Zainuddin membuat teman sekelasnya
geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin murid dari Lombok itu tidak
kesulitan sama sekali dalam semua mata pelajaran. Maulana Hasan bin
Muhammad juga begitu riangnya setiap kali mengajar di kelas Zainuddin.
Syaikh Hasan kerap membawa karangannya
ke dalam kelas Zainuddin. Salah
satu kitab karangannya adalah al-Taqrirat al-Tsaniyyah syarah
al-manzumat al-Baiquniyyah. Saat dikelas itu, sang Syaikh meminta
Zainuddin mengoreksi (mentashih) karangannya langsung di depan
kawan-kawannya. Syaikh Hasan yang bergelar al-Muhaddis al-ushul tersebut
tidak memintanya secara personal namun permintaan tersebut ditunjukkan
secara terbuka di depan teman-teman Zainuddin. Secara nyata (hal)
Maulana al-Hasan menyatakan bahwa muridnya super cerdas itu adalah ulama
yang berhak mentashhih kitab karangan ulama, dalam hal ini tidak lain
adalah gurunya yakni ulama al-Shaulatiyyah yang amat disegani. Guru
murid itu ternyata ulama.
Saat suasana belajar di kelas itu,
Zainuddin menolak permintaan gurunya mengoreksi kitab tersebut namun
sang guru terus meminta agar Zainuddin memeriksa kitab karangannya.
Zainuddin malu pada dirinya dan juga sungkan kepada temannya. Zainuddin
merasa diri sangat tidak layak mengoreksi karangan gurunya dan apalagi
itu dihadapan kawan-kawan sekelasnya. Kitab itupun (terpaksa)
diterimanya dari sang guru dan didekapnya erat di jalanan pulang ke
kosannya sambil menikmati pikirannya yang berkecamuk tentang hari
belajar yang takwajar itu.
Sampai akhirnya beliau membaca kitab
tulisan gurunya tentang ilmu hadits tersebut. Benar saja ujian khusus
dalam bentuk koreksi kitab oleh Maulana al-Hasan telah menempatkan murid
cerdas itu pada bagian khusus di hati para ulama haramain tersebut. Ia
dengan penuh ta’zim menyampaikan catatannya pada kitab tersebut sebagai
masukan atau koreksi. Dengan hati-hati ditulisnya catatan koreksi itu.
Dengan penuh kehati-hatian pula demi menjaga ta’zim disusunnya ungkapan
yang tepat ketika memberi catatan koreksi tersebut:
Untuk beberapa
pertimbangan beliau menulis: lau kana kadza lakana ahsan. [Seandainya
ditulis begini mungkin lebih cocok]. Beliau bercerita bahwa komentar itu
juga tidak sulit namun adab kepada guru itu sangat sulit dijaga. Beliau
khawatir tidak tepat dalam memberi masukan atau koreksi buku tersebut
namun beliau lebih khawatir jangan sampai komentarnya tersebut menjadi
kurang sopan (su’ul adab) kepada gurunya. Koreksi beliau pada buku
tersebut kurang lebih tiga atau empat tempat.
Para kawan dekatnya
juga menyadari keahlian Zainuddin. Syaikh Zakaria Abdullah, kawan
sekelasnya dari Sumatera. Seorang murid al-Shaulatiyyah yang ahli bahasa
itu mengenang bagaimana ia takkuasa membendung hasratnya mengalahkan
Zainuddin. Zainuddin adalah kawan dekatnya sekaligus saingan beratnya.
Zainuddin adalah sahabatnya sekaligus kompetitor tangguhnya di
al-Shaulatiyyah. Zakaria minimal telah belajar di al-Shaulatiyyah lebih
lama daripada Zainuddin. Zakaria maksimal belajarnya, sempurna pula
rajinnya merasa bahwa suatu saat nanti ia dapat mengalahkan Zainuddin
sekali saja.
Sampailah pada suatu hari ia menemukan cara jitu
mengalahkan classmate-nya itu. Itu jelang ujian akhir tahun dan salah
satu mata ujiannya adalah Tafsir. Salah satu referensi tafsir itu hanya
ada di perpustakaan al-Shaulatiyyah dan tidak dijual bebas. Bergegas ia
menuju perpustakaan al-Shaulatiyyah dan meminta kepada penjaga
perpustakaan itu agar kitab tersebut dipinjaminya dan disimpankan
untuknya untuk diambilnya nanti. Ia juga berpesan agar tidak memberi
tahu siapapun yang mau meminjam buku itu.
Sambil menyusuri jalanan kota Makkah ia kembali ke kosannya. Dalam terpekur mengukur jalanan itu, ia menaruh yakin bahwa paling tidak di pelajaran tafsir ia akan mampu mengalahkan Zainuddin. Rupanya Zainuddin juga mencari kitab yang sama. Suatu hari Zainuddin menuju perpustakaan itu untuk meminjam kitab yang sama. Ia berusaha membolak-balik kitab-kitab tersebut. Nihil. Takjua dijumpainya kitab tersebut. Ia yakin kitab itu ada dibarisan atau jejeran buku-buku tafsir tetapi kini kemana buku itu. Ia kemudian berpikir bahwa buku tersebut pasti sudah ada yang meminjamnya.
Sambil menyusuri jalanan kota Makkah ia kembali ke kosannya. Dalam terpekur mengukur jalanan itu, ia menaruh yakin bahwa paling tidak di pelajaran tafsir ia akan mampu mengalahkan Zainuddin. Rupanya Zainuddin juga mencari kitab yang sama. Suatu hari Zainuddin menuju perpustakaan itu untuk meminjam kitab yang sama. Ia berusaha membolak-balik kitab-kitab tersebut. Nihil. Takjua dijumpainya kitab tersebut. Ia yakin kitab itu ada dibarisan atau jejeran buku-buku tafsir tetapi kini kemana buku itu. Ia kemudian berpikir bahwa buku tersebut pasti sudah ada yang meminjamnya.
Zainuddin pun bergegas menuju penjaga perpustakaan tersebut. Sang
penjaga mengatakan bahwa dia tidak tahu tentang buku itu. Zainuddin pun
bertanya lagi untuk menepis keraguannya bahwa buku itu memang pernah ada
di perpustakaan. Tanyanya yang ragu dan berulang itu meyakinkan dirinya
bahwa sang penjaga agaknya menyimpan sesuatu. Diyakininya dari raut
mukanya dan nada serta gaya bicaranya yang tertahan itu, sang penjaga
menyimpan konspirasi dengan peminjam buku tersebut.
Zainuddin lalu
mendekatkan wajahnya kepada penjaga itu dan berkata dengan setengah
berbisik, ”siapa sebenarnya yang pinjam buku itu, tolong beri tahu
saya“. Awalnya sang penjaga takbergeming namun akhirnya dia membisikkan
kepada Zainuddin agar rahasia konspirasi penjaga dengan siapa yang
meminjam buku itu tidak bocor. Sudahlah, kalau Zakaria yang meminjamnya
pasti aku akan dapat meminjamnya.
Dalam langkah berpaut tanya yang tak selesai ia pun menuju kosan Zakaria. Dia berdiri ragu didepan pintu. Salam pun terucap dan sang pemilik kosan pun keluar. “Saya mau pinjam buku itu, berikan saya membacanya karena sudah Anda pinjam”. Betapa terperanjatnya Zakaria karena ternyata kongkalikong-nya dengan penjaga perpustakaan terbongkar. Walaupun begitu tekadnya mengalahkan Zainuddin di mata pelajaran ini tetap dikukuhkannya. Ia juga semakin kukuh meyakinkan kawan baiknya tersebut bahwa bukan dia yang meminjam buku tersebut. Mata batin Zainuddin melihat gejala ketidakwajaran itu namun begitu, tampaknya ia lebih memilih sabar dan kemudian berpamitan pada kawan baiknya tersebut. Ia terjebak dalam dilema antara ingin benar membaca buku itu dengan membongkar trik takmanis kawannya itu dan mengukir sabar bahwa persahabatan lebih utama dibandingnya meraih rangking di kelas.
Dalam langkah berpaut tanya yang tak selesai ia pun menuju kosan Zakaria. Dia berdiri ragu didepan pintu. Salam pun terucap dan sang pemilik kosan pun keluar. “Saya mau pinjam buku itu, berikan saya membacanya karena sudah Anda pinjam”. Betapa terperanjatnya Zakaria karena ternyata kongkalikong-nya dengan penjaga perpustakaan terbongkar. Walaupun begitu tekadnya mengalahkan Zainuddin di mata pelajaran ini tetap dikukuhkannya. Ia juga semakin kukuh meyakinkan kawan baiknya tersebut bahwa bukan dia yang meminjam buku tersebut. Mata batin Zainuddin melihat gejala ketidakwajaran itu namun begitu, tampaknya ia lebih memilih sabar dan kemudian berpamitan pada kawan baiknya tersebut. Ia terjebak dalam dilema antara ingin benar membaca buku itu dengan membongkar trik takmanis kawannya itu dan mengukir sabar bahwa persahabatan lebih utama dibandingnya meraih rangking di kelas.
Cerita ini tak terungkap jika saja Syaikh
Zakaria, ulama sekaligus pedagang serta pengarang cerdas tidak
menceritakannya sendiri kisah konspiratif tersebut. Untuk mengalahkan
Zainuddin ia harus menyembunyikan kitab referensi tersebut dan
membacanya sendiri dengan harapan pembaca tentu tahu isi kitab tersebut
dan tentu dapat menjawab soal-soal ujian itu dengan mudah. Praduganya
terkubur ketika hasil ujian diterimanya. Ia menatap sahabatnya itu dalam
rasa kagum yang teramat dalam. Bagaimana mungkin Zainuddin mampu
menjawab dengan demikian sempurna setiap soal dalam kertas ulangan itu.
Bahkan di beberapa jawaban tersebut Zainuddin merangkai jawabannya
dengan syair (puisi) secara spontan saat ujian itu.
Zakaria
mengubur hasratnya menyaingi Zainuddin dan serta merta mendayung rasa
kagumnya pada kawannya itu. Zainuddin yang menjadi korban upaya cerdas
menekuk langkahnya yang selalu sukses juga sesungguhnya tahu itu namun
jika saja tidak diceritakan oleh sahabatnya itu maka cerita kekaguman
yang berbau sabotase itu takkan terungkap. Zakaria niatnya hanya menguji
apakah dirinya mampu mengalahkan sahabatnya itu dalam hal nilai bukan
semata ingin mengalahkan atau menjatuhkan Zainuddin. Ia juga ingin
menguji kadar kealiman kawannya itu jika saja materi tersebut ujian
tersebut luput dari belajarnya.
Nyatanya kealiman Zainuddin semakin
memesona dirinya, kawannya, guru-gurunya dan juga seluruh keluarga
al-Shaulatiyyah. Pesona kekaguman itulah yang diceritakan bahwa
bagaimana sedihnya keluarga besar al-Shaulatiyyah ketika Zainuddin tamat
dan pulang ke Indonesia. Benar saudaraku, ini bukan cerita kekaguman
namun ini adalah cerita kesedihan atas kehilangan murid terbaik
al-Shaulatiyyah. Tamatnya Zainuddin telah menjadi prasasti abadi
kebanggaan al-Shaulatiyyah namun juga kepergian Zainuddin dari halaman
al-Shaulatiyyah telah menciptakan rasa dan aura kehilangan yang tiada
tara bagi al-Shaulatiyyah.
Saudaraku, tentu yang pernah belajar langsung kepada Maulana al-Syaikh tahu bahwa sekian pujian yang disampaikan oleh guru dan pimpinan madrasah al-Shaulatiyyah. Pujian al-Syaikh Amin Kutbi, madah Syaikh Salim, ikrar Syaikh Hasan Masysyath, sanjungan kawan-kawannya, semua itu bukan semata pujian. Itu semua bahasa batin, nyanyian jiwa, nada sukma yang mengalir pada diri para ulama besar itu dan mengalir dalam tutur magis itu. Ini bukan keceriaan menyaksikan bulan yang menerpa alam. Ini adalah nyanyian pujian dan kesaksian pada terang bulan yang menjadi suluh dalam gelap alam maya dengan segala kelebihan yang tidak dimiliki murid lain sepanjang sejarah al-Shaulatiyyah.
Saudaraku, tentu yang pernah belajar langsung kepada Maulana al-Syaikh tahu bahwa sekian pujian yang disampaikan oleh guru dan pimpinan madrasah al-Shaulatiyyah. Pujian al-Syaikh Amin Kutbi, madah Syaikh Salim, ikrar Syaikh Hasan Masysyath, sanjungan kawan-kawannya, semua itu bukan semata pujian. Itu semua bahasa batin, nyanyian jiwa, nada sukma yang mengalir pada diri para ulama besar itu dan mengalir dalam tutur magis itu. Ini bukan keceriaan menyaksikan bulan yang menerpa alam. Ini adalah nyanyian pujian dan kesaksian pada terang bulan yang menjadi suluh dalam gelap alam maya dengan segala kelebihan yang tidak dimiliki murid lain sepanjang sejarah al-Shaulatiyyah.
Ketika Zainuddin sudah tidak lagi di altar
madrasah al-Shaulatiyyah itu kehilangan itu amat nyata. Kehilangan yang
teramat sangat itu dirasakan oleh pribadi ulama besar bernama al-Syaikh
Salim Rahmatullah, guru sekaligus mudir al-Shaulatiyyah kala itu.
Kecintaaannya pada Zainuddin terungkap lewat tuturnya yang teramat
dalam: cukuplah al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti
Zainuddin. Ia bernostalgia bagai waktu dahulu saat Zainuddin masih di
al-Shaulatiyyah. Ia kerap bermimpi akankah ada murid al-Shaulatiyyah
yang serupa atau mendekati kealiman Zainuddin.
Ungkapan Syaikh
Salim itu benar dan jelas bahwa itu adalah bahasa cinta sekaligus bahasa
kekaguman atas pribadi yang dicintainya. Zainuddin adalah putra terbaik
yang pernah dididik di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah murid terbaik
yang pernah belajar di al-Shaulatiyyah. Zainudddin adalah pemuda terbaik
yang melukis keshalihannya dengan belajar jutaan hikmah dari
guru-gurunya. Zainuddin adalah anak emas yang telah dilahirkan oleh alam
dan dibesarkan di al-Shaulatiyyah. Zainuddin adalah kekasih Allah yang
dirasakan hikmahnya oleh al-Shaulatiyyah sepanjang zaman.
Mudir
menyadari itu. Mudir menyadari kehilangan yang tiada tara itu. Mudir
menyadari bahwa Allah belum menitipkan lelaki cerdas melebihi Zainuddin.
Gedung al-Shaulatiyyah seakan merana, penghuninya nelangsa, guru-guru
nyaris kehilangan gairahnya. Lorong-lorong bisu, kelas kaku, halaman
pucat pasi. Musim demi musim hanya menyimpan kenang, akankah ada
Zainuddin-Zainuddin lagi yang datang ke al-Shaulatiyyah untuk belajar.
Sampai wafatnya Syaikh Salim tak jua dijumpai pengganti murid yang
sempurna keshalihan dan kecerdasannya itu. Rasa kehilangan itu
terlukiskan lewat ucapannya yang terlampau romantis itu: cukuplah
al-Shaulatiyyah punya satu murid saja asalkan seperti Zainuddin.
Zainuddin dinilainya sebagai satu-satunya cinta yang dimiliki
al-Shaulatiyyah. Dan masa demi masa tidak menyediakan penggantinya.
Kesedihan dan rasa kehilangan itu diceritakannya kepada murid-muridnya. Mudir selalu, hampir selalu merenung setiap kali mengingat Zainuddin. Salah seorang murid al-Shaulatiyyah yang merekam tangis kehilangan itu adalah Syaikh Damanhuri seperti yang dituturkan muridnya. Dalam cerita beliau, seperti dituturkan salah satu murid al-Shaulatiyyah Syaikh Sahri Ramadlan (kastsarallah mistlah), bahwa betapa al-Shaulatiyyah kehilangan yang teramat sangat. Betapa Zainuddin adalah nama besar ulama al-Shaulatiyyah Makkah bukan semata ulama Indonesia.
Kesedihan dan rasa kehilangan itu diceritakannya kepada murid-muridnya. Mudir selalu, hampir selalu merenung setiap kali mengingat Zainuddin. Salah seorang murid al-Shaulatiyyah yang merekam tangis kehilangan itu adalah Syaikh Damanhuri seperti yang dituturkan muridnya. Dalam cerita beliau, seperti dituturkan salah satu murid al-Shaulatiyyah Syaikh Sahri Ramadlan (kastsarallah mistlah), bahwa betapa al-Shaulatiyyah kehilangan yang teramat sangat. Betapa Zainuddin adalah nama besar ulama al-Shaulatiyyah Makkah bukan semata ulama Indonesia.
Syaikh
Damanhuri tidak pernah bersua dengan Maulana al-Syaikh Zainuddin namun
nama Zainuddin telah menjadi buah hatinya karena Zainuddin telah menjadi
buah bibir Mudir yakni Syaikh Salim Rahmatullah, bahkan keluarga
al-Shaulatiyyah. Beliau hampir di tiap pengajian selalu menyempatkan
menyebut Maulana al-Syaikh Zainuddin. Aneh. Padahal tidak pernah bersua.
Aneh. Bagaimana Allah menanamkan keyakinan pada diri sang Syaikh itu
tentang keagungan Zainuddin, murid dari gurunya itu. Bagaimana alumni
madrasah al-Falah itu begitu mencintai Zainuddin sebagaimana kecintaan
guru-gurunya. Rasa cinta Syaikh Salim Rahmatullah kepada Maulana juga
merasuk dalam dirinya.
Salah satu cerita kehilangan yang diceritakannya adalah bahwa dalam sekian kali cerita kehilangan yang tiada tara itu, Syaikh Salim pernah berkata dalam suasana kenang duka kehilangan:
zahaba al-ilmu (ذهب العلم), ilmu telah pergi.
Salah satu cerita kehilangan yang diceritakannya adalah bahwa dalam sekian kali cerita kehilangan yang tiada tara itu, Syaikh Salim pernah berkata dalam suasana kenang duka kehilangan:
zahaba al-ilmu (ذهب العلم), ilmu telah pergi.
Syaikh Salim putra pendiri al-Shaulatiyyah itu menyatakan bahwa keluarga
al-Shaulatiyyah telah kehilangan ahli ilmu, al-Shaulatiyyah telah
kehilangan kebanggaan. Beliau menyatakan bahwa menara ilmu
al-Shaulatiyyah telah redup sinarnya. Sosok Zainuddin tidak dilihatnya
sebagai murid semata tetapi Zainuddin adalah referesentasi ahli ilmu dan
kepulangannya ke Indonesia adalah kehilangan bagi al-Shaulatiyyah.
Zainuddin tidak diyakininya hanya ahli ilmu sebagai pribadi tetapi
Syaikh Salim putra Sayikh Rahmatullah itu merasa kekeringan ilmu di
al-Shaulatiyyah karena tidak ada lagi yang memacu guru-guru di
al-Shaulatiyyah demikian aktif menghadapi siswa terpilih itu. Tidak ada
lagi yang bisa menjadi contoh terdekat yang mendorong aktif murid-murid
al-Shaulatiyyah setelah Zainuddin pergi.
Zainuddin dinilainya sebagai ahli ilmu sekaligus inspirasi ahli ilmu dalam hal ketaatan, kesabaran, ketekunan, keshalihan, kecerdasan, kejujuran, dan kecintaannya pada madrasahnya. Zainuddin dinilainya sebagai ilmu karena terlalu banyak pelajaran yang diambil oleh keluarga besar al-Shaulatiyyah dari pribadi Zainuddin. Zainuddin menjadi kitab, menjadi catatan, menjadi natsar (prosa), menjadi syair (puisi). Zainuddin menjadi pujian atas keagungan ilmu dan ahlinya. Wujud Zainuddin menurut Syaikh Salim adalah ilmu itu sendiri. Ilmu yang hidup yang pernah dimiliki al-Shaulatiyyah.
Zainuddin dinilainya sebagai ahli ilmu sekaligus inspirasi ahli ilmu dalam hal ketaatan, kesabaran, ketekunan, keshalihan, kecerdasan, kejujuran, dan kecintaannya pada madrasahnya. Zainuddin dinilainya sebagai ilmu karena terlalu banyak pelajaran yang diambil oleh keluarga besar al-Shaulatiyyah dari pribadi Zainuddin. Zainuddin menjadi kitab, menjadi catatan, menjadi natsar (prosa), menjadi syair (puisi). Zainuddin menjadi pujian atas keagungan ilmu dan ahlinya. Wujud Zainuddin menurut Syaikh Salim adalah ilmu itu sendiri. Ilmu yang hidup yang pernah dimiliki al-Shaulatiyyah.
Kini kurang lebih 85 tahun setelah
Maulana al-Syaikh meninggalkan madrasah itu, namanya masih menggema di
tanah Makkah. Syaikh Salim telah tiada dan digantikan putranya Syaikh
Mas’ud lalu digantikan oleh Syaikh Majid. Semuanya mengenang Zainuddin.
Zainuddin putra Lombok yang dihormati oleh gurunya karena keluhuran
budi, keluasan ilmu dan keagungan pribadinya.
Pantaslah sekembalinya Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dari Lombok didepan murid-muridnya beliau berikrar bahwa Maulana al-Syaikh Zainuddin adalah manusia yang tiada bandingannya. Zainuddin adalah manusia yang tiada duanya. Beliau berkata:
Pantaslah sekembalinya Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dari Lombok didepan murid-muridnya beliau berikrar bahwa Maulana al-Syaikh Zainuddin adalah manusia yang tiada bandingannya. Zainuddin adalah manusia yang tiada duanya. Beliau berkata:
ما فيه غده فى العالم
Zainuddin tiada duanya di dunia.
Salam untukmu wahai guruku.
Kepergianmu adalah duka ulama haramain, duka kehilangan dunia Islam, duka kehilangan murid Nahdlatul Wathan.
Salam untukmu wahai guruku.
Kepergianmu adalah duka ulama haramain, duka kehilangan dunia Islam, duka kehilangan murid Nahdlatul Wathan.
sumber" http://byaslam91.blogspot.co.id/"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar